KALTIMPOST.ID, Kompetisi nasional seperti Proliga 2026 bukan hanya ajang unjuk gengsi antar klub.
Di balik itu, ada peran besar dalam menentukan siapa yang benar-benar layak memperkuat tim nasional voli putra Indonesia di Asian Games 2026.
Asisten pelatih timnas voli putra Indonesia, Erwin Rusni, menegaskan bahwa federasi kini semakin memberi perhatian serius pada kompetisi yang berjalan rutin dan memiliki kualitas pertandingan tinggi.
“Secara sistem, sebenarnya ada beberapa jenjang pembinaan dan seleksi, mulai dari Porprov, Porda, PON, hingga SEA Games. Itu yang selama ini kita kenal. Namun, acuan tidak berhenti di situ saja,” ujar Erwin yang dilansir dari JawaPos.com, Senin (5/1/2025).
Baca Juga: Marc Marquez vs Valentino Rossi, Pertarungan yang Belum Benar-Benar Selesai
Menurut Erwin, pola pembinaan dan seleksi memang berlapis. Namun, di level tertinggi, konsistensi performa atlet justru lebih mudah dipantau lewat kompetisi profesional.
Erwin menyebut Livoli dan Proliga sebagai cermin paling nyata untuk menilai kesiapan pemain masuk tim nasional. Bukan hanya soal bakat, tapi soal konsistensi bermain di level tinggi.
“Kalau sekarang, yang bisa kita lihat secara nyata ya dari Livoli dan Proliga. Dari situ terlihat siapa pemain yang memang layak dan siap untuk masuk tim nasional,” jelasnya.
Dalam satu musim, tidak semua pemain mampu tampil stabil. Hal inilah yang membuat nama-nama tertentu terus muncul dalam daftar panggilan timnas.
Baca Juga: Bukan karena Kalah Cepat, Pecco Bagnaia Tumbang karena Faktor Ini
Soal Isu Pemain “Itu Lagi Itu Lagi”
Erwin tak menampik adanya persepsi publik bahwa timnas seolah didominasi pemain dari klub tertentu. Namun, menurutnya, realitas di lapangan memang seperti itu.
“Kadang muncul anggapan ‘kok itu lagi, itu lagi’. Tapi yang perlu dipahami, memang ada pemain-pemain yang secara kualitas mumpuni. Baik untuk tim inti maupun cadangan,” katanya.
Ia menegaskan, kualitas dan kesiapan menjadi faktor utama, bukan popularitas atau asal klub.
Isu pemain titipan juga ditepis langsung oleh Erwin. Ia memastikan proses seleksi dilakukan melalui tahapan panjang dan pertimbangan teknis yang tidak selalu terlihat oleh publik.
“Banyak yang berkomentar tanpa tahu kondisi sebenarnya. Kenapa pemain ini dipilih atau tidak, itu ada jenjang dan penilaiannya,” tegas Erwin.
Terkait pembinaan usia muda, Erwin mengungkap bahwa tidak semua klub besar memulai dari nol. Klub-klub Proliga umumnya merekrut pemain yang sudah punya dasar kuat.
Klub seperti Lavani, Samator, dan Indomaret disebut lebih fokus mematangkan pemain yang telah siap bersaing di level elite, bukan membina dari tahap paling dasar. ***
Editor : Dwi Puspitarini