KALTIMPOST.ID, Siulan dan cemoohan itu masih menggema ketika Novak Djokovic meninggalkan Rod Laver Arena, ketika ia memutuskan retired dari duelnya dengan Alexander Zverev di semifinal Australia Terbuka.
Namun, itu adalah awal dari serangkaian pertanyaan dan keraguan akan masa depan kariernya.
Ini bukan kali pertama bagi petenis 37 ini berjuang mengatasi hantaman cedera.
Empat tahun silam, Djokovic menang di Australia Terbuka dengan tanggungan cedera perut. Dua tahun kemudian, tepatnya 2023, dia meraih juara, lagi-lagi di ajang yang sama, dengan tanggungan cedera hamstring.
“Cedera adalah musuh terbesar seorang atlet profesional,” terang Djokovic dalam sebuah keterangan persnya.
“Bukan seperti saya khawatir mendekati setiap grand slam sekarang. Lebih kepada apakah saya akan cedera atau tidak?”
Dirinya menyadari frekuensi cedera itu perlahan kian intens. Dua dari empat grand slam terakhirnya berakhir dengan retired atau absen sama sekali.
Pada tahun lalu, dia mundur dari perempat final Prancis Terbuka karena cedera lutut.
“Saya tidak tahu apa alasan pastinya, mungkin beberapa faktor berbeda. Tapi saya akan terus berusaha, saya akan terus berjuang untuk memenangkan lebih banyak gelar,” jelas petenis Serbia ini.
Nasib Djokovic sejatinya hampir menyerupai Serena Williams. Dia terakhir memenangi gelar mayornya, yang ke-23, yakni di Australia Terbuka 2017.
Setelah itu, dia selalu gagal meraih gelar, untuk menyamai rekor Margaret Court, petenis Australia peraih 24 titel mayor—jumlah yang sama dengan Djokovic.
Ambisi melampaui catatan Court juga masih berkobar di sanubari Djokovic.
Dia masih ingin terus bermain. Tetapi dia belum tahu bagaimana nasib ke depannya.
“Saya ingin terus bermain, Tapi apakah saya akan memiliki jadwal yang direvisi atau tidak untuk tahun depan? Saya tidak yakin,” tuntas dia.
Editor : Hernawati