KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pertarungan sengit tersaji di babak big eight Honda DBL with Kopi Good Day 2024-2025 East Kalimantan.
Pertemuan kedua sekolah yang mestinya tampil di final, justru terjadi lebih cepat. Tim putri SMAN 3 (Smaga) Samarinda dan SMAN 1 (Smansa) Balikpapan, benar-benar kompetitif.
Keduanya memang punya sejarah apik di gelaran DBL Samarinda.
Baca Juga: Hasil AZA 3x3 Competition: Fix, Putra SMA Sunodia Samarinda Tantang SMAN 5 Balikpapan di Final!
Smaga Samarinda yang merupakan juara bertahan alias edisi tahun lalu, sudah punya lima gelar. Hebatnya, empat di antaranya diperoleh secara beruntun (2013, 2014, 2015, 2016).
Pun demikian dengan Smansa Balikpapan. Tim basket yang selalu didukung Militan tersebut juga punya lima gelar yang diperoleh pada musim 2009, 2010, 2012, 2017, dan 2018.
Kendati begitu, pertandingan di GOR Segiri, Selasa (18/2) menjadi milik Smaga dengan skor tipis 20-19.
Baca Juga: Hasil DBL Samarinda: Smansa Segel Tiket Fantastic Four, Coach Reza Akui Masih Banyak Kekurangan
Penampilan kedua tim cukup memanjakan mata. Keduanya saling jual-beli serangan dari kuarter pertama hingga kuarter terakhir. Smaga berhasil mengunci kemenangan di kuarter empat setelah sempat tertinggal di kuarter ketiga.
Coach Smaga Samarinda Sandi Indra Cahya tak bisa menutupi kebehagiaannya melihat timnya meraih kemenangan dramatis. Matanya bahkan berkaca-kaca, seolah tak percaya timnya mampu mengalahkan Smansa Balikpapan yang memiliki kualitas bagus.
“Terima kasih kepada pemain atas kerja kerasnya. Tim ini masih baru dan banyak dihuni pemain kelas VII dan VIII. Tapi mereka mau bekerja keras dan berhasil meraih kemenangan, saya bersyukur sekali,” ujar Sandi.
Berhasil lolos ke fantastic four, Sandi berharap pemainnya bisa tampil lebih bagus dari pertandingan ini.
Baca Juga: Hasil DBL Samarinda: Pulangkan Smanda Tenggarong, Smansa Kian Dekati Target
"Siapa pun lawannya, saya hanya ingin pemain bisa bermain lepas tanpa beban. Kami akan segera melakukan evaluasi internal untuk mempersiapkan kekuatan di fantastic four,” tukas Sandi. (*)
Editor : Ery Supriyadi