KALTIMPOST.ID - Max Verstappen kembali melontarkan kritik tajam usai seri kedua Formula 1 2026 di Shanghai, Minggu (15/3).
Pembalap Red Bull Racing itu menyebut siapa pun yang menikmati aksi salip-menyalip di era baru sebagai orang yang “tidak paham balapan”. Sebelumnya, ia juga sempat menyindir mobil generasi terbaru sebagai “Formula E on steroids”.
Namun, mantan bos Haas F1 Team, Guenther Steiner, menilai kritik tersebut bukan disebabkan oleh penolakan terhadap regulasi baru.
Baca Juga: Kontroversial! Gelar Juara Piala Afrika Senegal Dicabut, Maroko Resmi Jadi Kampiun
Menurutnya, komentar Verstappen lebih dipicu oleh ketidakpuasan terhadap performa mobil Red Bull saat ini. “Max tidak senang karena mobilnya tidak berada di posisi yang dia inginkan,” ujarnya kepada talkSPORT.
Di Shanghai, Verstappen gagal finis setelah sistem pendingin ERS (Energy Recovery System) di mobilnya mengalami gangguan. Masalah itu memperparah kondisi mobil yang sudah kekurangan tenaga, membuat juara dunia empat kali tersebut kehilangan sekitar lima posisi hingga start di P13.
Meski begitu, Steiner memahami situasi yang dihadapi Red Bull. Tim yang bermarkas di Milton Keynes itu tengah menjalani fase transisi setelah untuk pertama kalinya mengembangkan power unit sendiri musim ini.
“Tapi kadang-kadang, Max cepat ‘melempar mainannya keluar dari kereta bayi’ ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya,” sindir Steiner.
Baca Juga: Ganda Campuran Terry Hee/Gloria Widjaja Bubar Cepat, Padahal Sempat Nyaris Kalahkan Ranking 1 Dunia
Sementara itu, bos Mercedes-AMG Petronas Formula One Team, Toto Wolff, menilai kondisi Verstappen sangat dipengaruhi karakter mobil.
“Max benar-benar berada dalam situasi yang buruk. Jika Anda melihat onboard-nya saat kualifikasi, mobil itu sangat sulit dikendarai,” ujarnya, dikutip dari GPBlog.
Wolff juga menegaskan bahwa tidak semua tim mengalami masalah serupa. Ia justru melihat balapan tetap kompetitif dengan banyak duel, terutama di barisan depan.
“Kita pernah berada di era tanpa overtake sama sekali. Kadang kita terlalu nostalgia dengan masa lalu. Sekarang sebenarnya bagus,” katanya.
Meski demikian, Wolff tetap memahami frustrasi Verstappen. Menurutnya, gaya balap agresif sang pembalap membuat situasi ini sulit diterima.
“Untuk seseorang seperti Max yang selalu ingin menyerang dan terus menekan pedal gas, ini memang sulit. Tapi ini lebih ke masalah spesifik mobil yang memperbesar persoalan,” tutupnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi