KALTIMPOST.ID, PARIS – Kekalahan pahit harus diterima Aryna Sabalenka pada perempat final French Open 2026 di Roland Garros, Paris, Rabu (3/6) waktu setempat. Petenis putri peringkat pertama dunia itu tak mampu melanjutkan langkahnya setelah kalah 6-3, 5-7, 0-6 dari Diana Shnaider.
Hasil tersebut terasa sangat menyakitkan bagi Sabalenka. Selain menerima kekalahan telak dengan skor nol pada set penentuan atau bagel, petenis asal Belarus itu juga kehilangan sepuluh gim secara beruntun sebelum akhirnya menyerah.
Kekecewaan mendalam pun diungkapkan Sabalenka seusai pertandingan. Dia mengaku mengalami tekanan mental yang luar biasa hingga sempat berpikir untuk meninggalkan dunia tenis.
Baca Juga: Purbaya Bantah Kabar Lengser dari Jabatan Menkeu saat Rupiah Terpuruk ke Rp18.039 per Dolar AS
“Tidak ada pikiran, tidak ada emosi. Saya hanya ingin berhenti bermain tenis sekarang,” ujar Sabalenka seperti dikutip The Guardian.
Petenis berusia 28 tahun itu menambahkan bahwa dirinya terjebak dalam situasi mental yang sulit selama pertandingan berlangsung.
“Secara mental saya masuk ke lubang yang sangat dalam dan gelap. Saya tidak bisa kembali menemukan permainan saya,” katanya.
Selain menyoroti performanya sendiri, Sabalenka juga mengkritik keputusan penyelenggara yang membiarkan atap Court Philippe-Chatrier tetap terbuka saat angin bertiup cukup kencang. Menurutnya, kondisi tersebut membuat permainan menjadi semakin sulit dikendalikan.
Baca Juga: Pemkab Mahakam Ulu Perpanjang MoU dengan Unhas, Buka Peluang Kerja Sama Strategis
“Saya tidak tahu mengapa mereka membiarkan atap tetap terbuka. Meskipun saya sedang unggul, permainan tenis saya sangat berantakan. Saya tidak tahu bagaimana orang-orang bisa duduk di sana dan menonton saya bermain,” keluhnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi