AQUA DBL Dance 2026, saat Wastra Nusantara Tampil dengan Gaya Anak Muda

Doni Aditya Haryono • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 08:07 WIB
Tim dance SMA BPK Penabur Singgasana tampil dengan mengusung kreativitas dan kekayaan budaya Indonesia. (DBL INDONESIA)
Tim dance SMA BPK Penabur Singgasana tampil dengan mengusung kreativitas dan kekayaan budaya Indonesia. (DBL INDONESIA)

 

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Batik identik dengan busana formal. Namun, di panggung AQUA DBL Dance 2026, kain tradisional Indonesia itu tampil dengan wajah berbeda.

Di tangan para pelajar, batik dan Wastra Nusantara tidak sekadar menjadi pakaian. Kain tradisional tersebut diolah menjadi bagian dari kostum, properti, koreografi, bahkan dipadukan dengan musik dan modern dance.

Momentum ini terasa semakin relevan karena bertepatan dengan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober. Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa batik dan kain tradisional Indonesia tidak harus berhenti sebagai warisan masa lalu. Keduanya bisa terus berkembang dan menemukan tempat di tengah perubahan zaman.

SMA Perguruan Rakyat 2 Jakarta
Tim dance SMA Perguruan Rakyat 2 Jakarta

 

Semangat itulah yang dibawa DBL Dance tahun ini. Memasuki usia ke-22, DBL Dance mengusung tema “100% Indonesia” melalui kolaborasi DBL Indonesia dan AQUA.

Baca Juga: Asian Games Doha 2030 Dipertimbangkan Mundur Jadi 2031

Tema tersebut memberi ruang bagi para pelajar untuk menerjemahkan keberagaman Indonesia sesuai kreativitas mereka. Hasilnya, budaya Nusantara hadir bukan sekadar sebagai cerita, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pertunjukan.

Hal itu terlihat di berbagai kota penyelenggaraan DBL yang berlangsung di 31 kota dan 22 provinsi di Indonesia.

Di Surabaya, misalnya, tim dance SDOB (Sixers Dance One Blood) dari SMAN 6 Surabaya menjadikan batik sebagai bagian utama konsep penampilan. Mulai kostum, properti, koreografi, hingga musik disusun untuk mendukung tema yang mereka bawa.

“Kami ingin membawa batik dari image-nya tradisional itu ke arah modern. Harapannya, batik tidak hanya diakui UNESCO, tetapi batik itu bisa kayak mendunia,” ujar Keisha Bella Valencia Irawan, salah satu dancer SDOB.

Tim dance SMAN 6 Surabaya
Tim dance SMAN 6 Surabaya

 

Menariknya, proses kreatif tersebut mereka kerjakan sendiri. Kain batik dibeli bersama, kemudian dijahit dan ditempelkan pada kostum. Sejumlah properti juga dibuat untuk memperkuat konsep pertunjukan.

Dengan begitu, batik tidak berhenti sebagai sesuatu yang dikenakan. Para dancer ikut terlibat dalam proses mengolahnya menjadi sebuah karya.

Cerita serupa datang dari Xtrada, tim dance SMAN 2 Jombang. Mereka melihat anak muda kini semakin dekat dengan berbagai tren modern, sementara sejumlah budaya yang diwariskan turun-temurun mulai ditinggalkan.

“Di era digital yang penyebaran informasi bisa masif dan datang dari mana saja, banyak yang lupa dengan budayanya sendiri. Padahal, harusnya budaya tradisional dan modern itu tak harus berlawanan. Malah bisa di-blend,” ujar Alisha Nathania Putri atau Lisha, kapten tim dance Xtrada.

Pesan tersebut kemudian mereka terjemahkan lewat sosok pembatik dalam pertunjukan. Kebaya dan kain batik dipadukan dengan sentuhan modern, sementara musik tradisional Bali dan Jawa Tengah turut mengisi penampilan.

Bagi Xtrada, budaya tradisional tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk yang kaku untuk bisa dekat dengan generasi muda.

Baca Juga: Lando Norris Jadi Sasaran Bullying Usai Kritik Franco Colapinto

Di Yogyakarta, tim dance SMAN 1 Yogyakarta juga membawa kekayaan batik ke atas panggung AQUA DBL Dance 2026 D.I. Yogyakarta. Penampilan mereka dikemas dengan gerakan yang anggun sekaligus sarat makna.

Berbagai motif batik diperkenalkan melalui gerakan dan alur pertunjukan. Motif Parang menggambarkan semangat pantang menyerah dan terus maju. Kawung membawa pesan tentang keseimbangan dan keteguhan hati, sedangkan Mega Mendung menggambarkan ketenangan serta pengendalian diri.

Penampilan kemudian mencapai puncaknya ketika sosok burung merak muncul dengan bulu terbentang. Visual tersebut menggambarkan keberanian menunjukkan jati diri sekaligus keindahan keberagaman Indonesia.

Kreativitas serupa juga terlihat dari tim-tim dance pada DBL seri Jawa Barat. SMAN 2 Bandung, SMA BPK Penabur Singgasana, dan SMA Taruna Bakti hadir dengan cerita masing-masing.Baca Juga: Bukan Cuma Rp76,5 Juta, Ini Hitungan Penghasilan 26 Wantimpres dan Beban APBN

Ada yang mengangkat keberanian menemukan jati diri, perjalanan batik hingga dikenal di kancah internasional, serta petualangan menjelajahi kekayaan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Tim dance SMAN 2 Jombang
Tim dance SMAN 2 Jombang

 

Kemasan yang berbeda-beda itu menunjukkan bahwa Indonesia memiliki begitu banyak cerita yang bisa dihidupkan melalui kreativitas generasi muda.

Di Jakarta, SMA Perguruan Rakyat 2 membawa koreografi yang terinspirasi dari proses membatik. Mereka juga memasukkan sejumlah kesenian tradisional, termasuk kuda lumping, untuk memperkuat nuansa budaya Nusantara.

Namun, unsur tradisional tidak ditampilkan secara kaku. Koreografi diberi sentuhan modern sehingga lebih dekat dengan karakter generasi masa kini.

Cerita lain datang dari SMA Xaverius 1 Palembang. Tim dance The Reverie mengangkat tema “Kartini: Woman Empire” dengan memasukkan unsur batik dalam kostum dan visual pertunjukan.

Konsep tersebut terinspirasi dari perjuangan R.A. Kartini dalam menyuarakan kesetaraan gender serta hak perempuan untuk terus berkembang dan berprestasi.

Batik kemudian menjadi pengikat antara pesan tentang kesetaraan gender dan akar budaya Nusantara. Pesan yang ingin disampaikan, generasi muda bisa membawa nilai-nilai tersebut ke dalam konteks kekinian tanpa meninggalkan identitas budaya.

aya akan tetap hidup ketika generasi muda merasa dekat dan bangga terhadapnya. AQUA DBL Dance 2026 menghadirkan ruang ‘adem’ bagi pelajar untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus merayakan kekayaan budaya Indonesia. Kreativitas peserta dalam mengangkat Wastra Nusantara menunjukkan bahwa warisan budaya bangsa tetap relevan, dapat dinikmati, dan terus menginspirasi lintas generasi,” ujar Adisti Nirmala, Marketing Director AQUA.

Berbagai penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana generasi muda mengenal budaya dengan cara mereka sendiri. Mereka tidak hanya mempertahankan warisan yang ada, tetapi juga mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka.

Batik dan Wastra Nusantara akhirnya tidak sekadar menjadi simbol masa lalu. Di tangan generasi muda, keduanya mendapat ruang untuk terus bergerak, beradaptasi, dan tampil dalam bentuk yang lebih modern. (*)

Editor : Ery Supriyadi
Sumber : DBL INdonesia
wastra nusantara DBL Dance AQUA DBL Dance 2026 hari batik nasional batik