Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Atasi Krisis Air di Balikpapan, Akademisi dan Ahli Perairan Bakal Rembuk Bersama

Dina Angelina • Senin, 29 Juli 2024 | 11:43 WIB

BAHAS: Waduk Manggar dan Bendungan Teritip masih menjadi sumber air baku andalan di Balikpapan. Ketika terjadi kemarau, maka berdampak pada produksi air. (FOTO: ANGGI PRADITHA/KP)
BAHAS: Waduk Manggar dan Bendungan Teritip masih menjadi sumber air baku andalan di Balikpapan. Ketika terjadi kemarau, maka berdampak pada produksi air. (FOTO: ANGGI PRADITHA/KP)
KALTIMPOST.ID, Masalah air menjadi pekerjaan berat yang belum juga terselesaikan. Meski telah sekian waktu pembahasan, berbagai upaya masih dilakukan agar Balikpapan tak lagi krisis air baku.

 

Sebagai bentuk komitmen dan dukungan mengatasi masalah tersebut, sejumlah akademisi, parlemen, tenaga ahli dan pemangku kepentingan lainnya akan rembuk bersama. Tepatnya dalam gelaran Balikpapan Water Forum.

 

CEO Balikpapan Water Forum Agung Sakti Pribadi mengatakan, selama ini Balikpapan mengandalkan sistem waduk tadah hujan. Pertama Waduk Manggar yang memiliki kapasitas 14,2 juta meter kubik dan produksi 1.100 liter per detik.

 

Lalu Waduk Teritip dengan kapasitas 2,4 juta meter kubik dan produksi 270 liter per detik. Terbaru Bendungan Sepaku Semoi di IKN dengan kapasitas 2.500 liter per detik. Rencananya sebagian kecil akan menyuplai air ke Kota Minyak.

 

Hal yang utama, penduduk Balikpapan di siang hari mencapai 1,2 juta dengan kebutuhan air baku 3.856 liter per detik. Sementara kapasitas eksisting saat ini hanya 1.300 liter per detik.

 

“Artinya sudah ada defisit air 2.556 liter per detik. Sebaiknya mari kita menyelesaikan masalah ini bersama,” katanya. Direktur Eksekutif Yayasan Airlangga ini menjelaskan, salah satu faktor krisis air karena Indonesia memang kekurangan jumlah bendungan.

 

Agung memberi contoh, India sebagai negara dengan populasi terbanyak kedua di dunia memiliki 1.900 bendungan. Selanjutnya Jepang dengan 3.000 bendungan, Amerika memiliki 6.100 bendungan.

 

Serta Tiongkok sebanyak 98 ribu bendungan. Sementara Indonesia hanya memiliki 234 bendungan. “Ini menunjukkan negeri kita sebenarnya sudah kekurangan air kalau dihitung dari total penduduk,” tuturnya.

Dia berharap masalah air bisa selesai dengan mengumpulkan para ahli untuk memberi saran. “Kami dari pihak kampus akan membahas masalah kelangkaan air bersama tim dalam Balikpapan Water Forum,” sebutnya.

 

Ada pun narasumber atau keynote speaker Balikpapan Water Forum di antaranya Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kaltim Fitriansyah dan Wali Kota Balikpapan 2011-2021 Rizal Effendi.

 

Pendiri dan Ketua Indonesia Water Institute (IWI) Firdaus Ali, Tenaga Ahli Perairan Eko Wahyudi, dan Yusuf Wibisono selaku akademisi dari Universitas Mulia. Selanjutnya Kepala BWS Kalimantan IV Yosiandi Radi Wicaksono dan Wali Kota Samarinda Andi Harun.

 

Balikpapan Water Forum berlangsung di Universitas Mulia pada Rabu (31/7). Harapannya cara ini turut mengatasi kelangkaan air. “Kami membahas dan kolaborasi terintegrasi antara pemerintah, parlemen, swasta, akademisi, komunitas, dan generasi muda,” ujarnya.

 

Agung menambahkan, pembahasan masalah air bukan lagi sektoral antar kota. Namnun mulai dari bicara kebutuhan IKN. Mengingat IKN menjadi pusat perhatian dunia. Menurutnya sungguh tidak elok jika IKN kekurangan air.

 

“Tapi juga tidak mungkin hanya menyelesaikan masalah air di IKN. Sebab semua diawali kekurangan air dari Balikpapan dan kota sekitarnya,” tuturnya. Seperti PPU, Kukar, Samarinda. Maka empat daerah ini bisa membahas bersama.

 

Serta Otorita IKN juga bisa berkomunikasi dengan pemerintah daerah sekitar IKN. Dia berharap, Balikpapan Water Forum mendatangkan solusi dari sudut pandang kabupaten/kota. Kemudian perspektif konsultan, akademisi, hingga komunitas. 

Baca Juga: Presiden Mulai Berkantor di IKN Hari Ini; Sudah Ada Kursi, Masak Lesehan?

 

 

Editor : Uways Alqadrie
#air bersih #krisis #balikpapan