KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Universitas Mulia menggelar focus group discussion (FGD) Go Green. Tema pembahasan kali ini mendorong program Balikpapan Hijau dan Cerdas Berkelanjutan.
Kegiatan berlangsung di Ballroom Cheng Ho, Kamis (12/9). Narasumber utama peraih Kalpataru Lingkungan 2018 Bambang Irianto. Sang inisiator dibalik kesuksesan Glintung Go Green (3G).
Bambang memulai program ini ketika menjadi ketua RW 23 Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Sebagai ketua RW, Bambang mengajak warga untuk mulai program go green mulai dari cara sederhana.
Misalnya setiap rumah setidaknya memiliki tanaman hijau. Ini bisa berbagai jenis tanaman dan bahan apa saja. Jika lahan sempit bisa teratasi dengan memanfaatkan polybag, vertical garden, hidroponik, sky garden, hingga flying garden.
Kemudian melakukan gerakan menabung air (Gemar) bersama warga sebagai gerakan sosial. Tujuannya memasukkan air sebanyak mungkin ke dalam tanah melalui biopori berbagai varian. Lalu parit resapan, bak kontrol resapan, hingga sumur injeksi.
Semua dilakukan oleh warga secara mandiri. Bambang menjelaskan, fungsi lubang resapan biopori bisa mempercepat peresapan air hujan. Air ini menjadi cadangan dan berguna untuk generasi mendatang.
Itu bisa mencegah genangan dan banjir, erosi dan longsor, peningkatan cadangan air tanah. “Efeknya kelembaban udara menjadi lebih terjaga. Lingkungan hidup yang nyaman bisa mencegah penyakit,” sebutnya.
Baca Juga: Warga Kelola Sumur Air Dalam Gunung Sari Ulu, Dijual Rp 8.500 per Kubik
Tak menutup kemungkinan pengembangan agribisnis perkotaan. Seperti Glintung Go Green yang telah menjadi sarana edukasi dan kampung percontohan di Indonesia. Cara seperti ini bisa ditiru oleh daerah lain, termasuk Balikpapan.
Namun dia mengingatkan, kunci keberhasilan program go green harus berangkat dari semangat masyarakat terlebih dahulu. Warga harus tahu bagaimana kondisi eksisting kampungnya, apa masalah dan solusi yang dibutuhkan.
“Kalau sudah ada semangat dan mental dari masyarakat, baru masuk bantuan pemerintah dan swasta untuk mendukung,” ujarnya. Bantuan tidak boleh mendahului mindset masyarakat perlu membangun, membantu, dan menyatukan kekuatan.
Masalahnya dia melihat beberapa daerah di Kaltim hanya mengandalkan dana corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan dan bantuan pemerintah. “Ini perlu paradigma baru pemberdayaan masyarakat,” katanya.
Baca Juga: Balikpapan Raih Piala WTN, Bukti Tata Kelola Transportasi yang Baik
Bambang menawarkan, prinsipnya harus membangun awal tanpa dana dan membawa semangat Mandau. Artinya mandiri dan berdaulat. “Program utama pemerintah kota seharusnya ubah mindset dulu agar masyarakat bergerak,” sebutnya.
Setelah itu, OPD bisa memantau sesuai peran masing-masing. Sebab membangun kampung harus holistik menyeluruh. “Saya lihat balikpapan secara umum masalah banjir, kekeringan, krisis air. Ini sudah darurat dan harus gerakan semua,” tuturnya.
Dia menuturkan, pemerintah tidak bisa sendiri dan harus kembali ke gerakan masyarakat. Termasuk gerakan menampung air tersebut. “Warga di kampung bisa panen air dengan biopori yang dikerjakan secara massif,” tandasnya. (*)
Editor : Thomas Priyandoko