Jumlah Penduduk Miskin di Balikpapan Per Maret 2024 Jadi Yang Terendah Selama Sepuluh Tahun Terakhir
Ulil Mu'Awanah• Jumat, 20 September 2024 | 17:15 WIB
Ilustrasi masyarakat miskin
KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN-Angka penduduk miskin per Maret 2024 di Balikpapan mencapai angka terendah selama satu dekade terakhir. Dengan persentase hanya 2,23 persen.
Demikian dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan melaporkan hasil survei terbaru mengenai kemiskinan di kota ini.
"Angka ini adalah yang terendah dalam sepuluh tahun terakhir, dan menunjukkan bahwa program-program penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan mulai menunjukkan hasil," ujar Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.
Dalam laporan yang dirilis BPS, diketahui bahwa jumlah penduduk miskin di Balikpapan mencapai 14,53 ribu orang.
Angka ini mengalami penurunan dari 14,99 ribu orang pada Maret 2023, atau berkurang sebanyak 0,46 ribu orang.
"Kita tidak hanya melihat pada jumlah, tetapi juga persentase. Penurunan ini menunjukkan keberhasilan berbagai inisiatif sosial dan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah dan masyarakat," jelasnya
Marinda juga menjelaskan tentang garis kemiskinan yang ditetapkan di Balikpapan. Pada Maret 2024, garis kemiskinan ditetapkan sebesar Rp 782.248 per kapita per bulan, meningkat sebesar 5,27 persen dibandingkan Maret 2023. Garis kemiskinan ini mencakup pengeluaran minimum untuk memenuhi kebutuhan makanan dan non-makanan.
"Walaupun garis kemiskinan meningkat, angka kemiskinan tetap turun, yang menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat juga meningkat," tambah Marinda.
Ia menekankan pentingnya melihat angka kemiskinan dalam konteks yang lebih luas, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Namun, persoalan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan jumlah dan persentase. Marinda menjelaskan dua dimensi penting lainnya: kedalaman dan keparahan kemiskinan.
Indeks Kedalaman Kemiskinan, yang mengukur rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, menunjukkan penurunan dari 0,25 pada Maret 2023 menjadi 0,13 pada Maret 2024.
"Saya kira ini adalah indikasi bahwa tidak hanya jumlah orang miskin yang berkurang, tetapi juga kualitas hidup mereka membaik. Ini merupakan langkah positif yang harus terus dipertahankan," ungkap Marinda.
Demikian pula, Indeks Keparahan Kemiskinan juga mengalami penurunan dari 0,04 menjadi 0,01. "Angka ini menunjukkan bahwa distribusi pengeluaran di antara penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan, yang berarti mereka semakin mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka," tambahnya.
Marinda menggarisbawahi bahwa penurunan angka kemiskinan ini tidak terlepas dari berbagai program dan kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beberapa program tersebut termasuk bantuan sosial, pelatihan keterampilan, dan pengembangan ekonomi lokal.
"Yang diharapkan bahwa semua program ini dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil sangat penting dalam mencapai tujuan ini," kata Marinda.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah kota juga telah meningkatkan infrastruktur dan akses ke layanan kesehatan serta pendidikan, yang berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Semua ini merupakan bagian dari upaya terpadu untuk mengurangi kemiskinan di Balikpapan.
Meskipun angka kemiskinan menunjukkan tren penurunan, Marinda mengingatkan bahwa tantangan masih ada. Ia menyebutkan bahwa ada kelompok rentan yang masih perlu diperhatikan, seperti pekerja informal dan keluarga yang baru saja kehilangan mata pencaharian akibat situasi ekonomi.
"Setiap program pasti perlu waktu, evaluasi dan penambahan untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat dari pertumbuhan ekonomi. Sehingga angka kemiskinan akan terus menurun, dan kualitas hidup masyarakat Balikpapan akan semakin meningkat," tutup Marinda.(*)