KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – TPA Manggar melakukan budidaya maggot. Ini sebagai bahan edukasi kepada masyarakat bagaimana mengolah sampah organik secara mudah. Khususnya pengolahan sampah organik dengan jenis maggot black sodio fly (BSF).
Penyuluh Lingkungan Hidup TPA Manggar Fadil mengatakan, BSF digunakan karena sangat mudah dalam aplikasinya. Ini merupakan jenis larva serangga yang tidak pembawa penyakit. Artinya bebas penyakit.
“Beda dari lalat biasanya yang berbentuk kecil. Sedangkan bentuk tubuh lalat BSF lebih panjang,” katanya. Sistem pemanfaatan BSF dengan cara memberi makanan berupa sampah-sampah organik.
Seperti sampah sayuran, sisa kulit buah, roti, dan apa saja yang tergolong dalam jenis sampah organik bisa dimakan oleh maggot. “Jadi sampah ini diurai sama maggot. Tugas kami memberikan edukasi, skala budidaya maggot itu kecil saja,” ujarnya.
Fadil bercerita, setiap hari di lokasi pembudayaan maggot TPA Manggar setidaknya bisa membantu pengelolaan sampah organik 10-15 kilogram. Jumlah ini bisa dihabiskan dalam satu hari oleh maggot.
Ada pun ruangan budidaya maggot di TPA Manggar memiliki luas 3x4 meter. Menurutnya hal ini bisa dilakukan di rumah tangga juga. “Karena mudah, tidak butuh tempat banyak. Cukup tempat kecil sudah bisa,” imbuhnya.
Kemudian maggot bisa digunakan untuk berbagai hal lain. Seperti pakan ternak karena maggot sejenis belatung. Misalnya jika menjadi pakan ayam, maka kandungan telur yang dihasilkan bagus. Mengingat memiliki Omega 3.
“Maggot ini punya protein yang tinggi sekali dibandingkan pakan ternak yang disediakan di pasaran,” tuturnya. Sementara hasil residu dari maggot yaitu kasgot yang merupakan sisa-sisa dari hasil pencernaan maggot. Itu bisa menjadi pupuk organik.
Sehingga semua bagian maggot bisa bermanfaat. “Sekitar 44 hari sudah bisa dari telur sampai menjadi lalat,” ucapnya. Namun cara ini butuh usaha untuk mau mengelola sampah organik dengan maggot. Sebab kembali ke masyarakat masing-masing. (gel)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko