Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, sebelumnya dua bulan berturut-turut Balikpapan mengalami deflasi. Namun September ini terjadi inflasi dalam koridor yang terjaga.
Sehingga data year on year (y-o-y) terjadi inflasi 2,31 persen. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yaitu 1,84 persen yoy dan inflasi gabungan empat kota di Kaltim sebesar 2,16 persen yoy.
“Ini masih dalam rentang target. Saya pikir ini masih terkendali atau terjaga,” katanya kepada awak media, Rabu (16/10). Sedangkan data inflasi year to date (y-t-d) sebesar 1,58 persen.
Dia menjelaskan, ada beberapa komoditas yang menjadi penyebab inflasi selama September. Mulai dari kangkung, bayam, udang basah, sawi hijau, dan ikan layang.
“Kangkung selama dua bulan ini menyumbang inflasi karena pasokan menurun akibat curah hujan tinggi,” tuturnya. Itu yang membuat gagal panen produksi menurun dan mempengaruhi kelancaran distribusi.
Sementara itu, kenaikan pada komoditas udang basah karena pasokan menurun. Imbas cuaca kurang baik.
Begitu pula faktor yang sama pada kenaikan harga ikan layang. Akibat cuaca dan angin yang kencang membatasi aktivitas nelayan.
“Inflasi daerah perlu terus diwaspadai seiring peningkatan curah hujan yang berpotensi mendisrupsi kontinuitas ketersediaan pasokan pangan,” sebutnya. Terutama komoditas hortikultura kangkung, bayam, dan sawi hijau yang kerap menyumbang inflasi.
Pihaknya mengapresiasi berbagai upaya untuk menekan angka inflasi dan harga tidak terlalu naik. Salah satunya dengan Gerakan Pangan Murah (GPM). Maka Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) siap mendukung.
“Dalam konteks ini menyediakan pangan dengan harga terjangkau untuk membantu masyarakat. Kami bersama Pemkot Balikpapan dan distributor,” tuturnya. Selama GPM, barang yang dijual lebih murah dari harga pasar.
Mengingat ini harga langsung dari distributor. Sehingga lebih terjangkau untuk masyarakat. Menurutnya Balikpapan adalah kota yang unik karena tidak punya petani. Semua barang dari luar daerah Balikpapan.
“Jadi harus menjaga kelancaran distribusi dan harga terjangkau,” imbuhnya. Robi menambahkan, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga atau deflasi.
Di antaranya cabai rawit, daging ayam ras, angkutan udara, bensin, dan bahan bakar rumah tangga. “Penurunan harga cabai rawit disebabkan oleh pasokan yang meningkat,” imbuhnya.
Kemudian penurunan harga bensin karena terdapat penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi oleh PT Pertamina secara nasional per September 2024.
“Bahan bakar rumah tangga mengalami penurunan karena pasokan lancar seiring upaya dari pemerintah daerah melalui operasi pasar,” bebernya.
Selanjutnya daging ayam ras juga mengalami penurunan harga karena distribusi kembali normal. Itu membuat pasokan komoditas mulai stabil. Terakhir penurunan harga komoditas angkutan udara.
“Permintaan tiket pasca rangkaian kegiatan di IKN kembali normal. Normalisasi frekuensi penerbangan oleh beberapa maskapai,” tutupnya. (gel)
Editor : Almasrifah