KALTIMPOST.ID-Menanggapi kabar adanya potensi tambahan air baku untuk warga Balikpapan. Komisi II DPRD Balikpapan telah berkunjung ke lokasi sumur yang dikelola PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT).
Itu tindak lanjut dari pertemuan yang berlokasi di kantor Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB), pekan lalu. Kala itu informasinya, KKT memiliki sumur bor dengan total produksi air sebesar 300 liter per detik.
Harapannya produksi sumur tidak hanya berguna untuk operasional kapal. Namun sebagian 150 liter per detik bisa membantu keperluan air di Balikpapan. Sayang dari hasil sidak wakil rakyat, kondisi di lapangan jauh dari ekspektasi awal.
“Ternyata setelah dicek dengan alat PDAM, setiap sumur hanya produksi 16 liter per detik,” kata Ketua Komisi II DPRD Balikpapan Fauzi Adi Firmansyah. Dia menjelaskan, air yang benar-benar bisa digunakan hanya 10 liter per detik per sumur.
Artinya dengan keberadaan empat sumur, total menghasilkan 40 liter per detik. Pihaknya beranggapan 20 liter per detik untuk operasional KKT dan 20 liter per detik untuk suplai air ke Balikpapan.
Menurutnya kemampuan produksi sumur dari KKT itu tidak sebanding dengan nilai investasi dan sebagainya. Komisi II sudah memiliki gambaran untuk opsi itu tidak bisa dilanjutkan lagi.
“Melihat biaya begitu besar dan tidak sebanding dengan air yang bisa diambil dari sana,” ucapnya. Total perlu membangun pipa sepanjang 12 kilometer dari KKT ke simpang empat Kilometer 13.
Meski begitu, pihaknya juga menunggu hasil rekomendasi dari PTMB. Namun DPRD Balikpapan memastikan opsi ini tak bisa berlanjut. “Kami sudah berupaya meninjau rekomendasi yang ada,” imbuhnya.
Artinya memantau apa saja potensi yang ada untuk tambahan suplai air baku. Sebelumnya pertemuan itu sesuai arahan Gubernur Kaltim terpilih Rudy Mas’ud dan Ketua Komisi III DPRD Kaltim Abdulloh. PTMB mengaku siap jika memang ada suplai air baku tambahan sebesar 150 liter per detik. Ini setidaknya bisa memenuhi kebutuhan bagi 1.000 sambungan rumah (SR).
Terutama yang berada di Balikpapan Utara yang selama ini belum ter-cover seluruhnya. Sayang seusai melakukan tinjauan lapangan, anggota dewan menemukan kondisi di lapangan tak sesuai informasi. (gel/rd)
Editor : Romdani.