KALTIMPOST.ID, Setiap tahunnya, Anzac Day menjadi momen bersejarah dan renungan bagi bangsa Australia.
Pasalnya, sejarah yang berlangsung pada 80 tahun silam ini, merupakan momen untuk mengenang prajurit yang gugur di Perang Dunia Kedua.
Balikpapan, menjadi salah satu tempat bersejarah bangsa Australia saat menghadapi Jepang. Pada tanggal 1 Juli 1945 tepatnya, dengan nama sandi Operasi Oboe Dua, lebih dari 21.000 tentara Australia Divisi ke-7 mendarat di Balikpapan.
Di masa itu, ratusan warga Australia tewas saat menghadapi Jepang. Pengorbanan tersebut, bahkan turut menjadi jalan cerah bagi Indonesia untuk terbebas dari penjajahan bangsa Jepang.
Baca Juga: Wondrous April Bakal Manjakan Pengunjung Plaza Balikpapan, Seru dan Inspiratif!
Chairman Anzac Community Ken Morris mengatakan, Anzac Day sendiri telah dirayakan sejak perang berakhir, setiap tahunnya.
“Ini bukan perayaan. Ini adalah kenangan bagi kita semua. Kenangan bagi para veteran, kawan-kawan yang tidak pulang karena gugur. Ingatlah mereka yang telah pergi saat itu, dan mereka yang telah pergi setelahnya,” kata dia.
Sebagai mantan prajurit, ia mengatakan momen ini adalah waktu wajib untuk mengenang teman-temannya yang gugur dalam perang.
Rekan yang pernah bertugas bersama dengannya, namun gugur di medan perang.
“Memasang atap adalah bagian yang sulit karena saat Anda memasang atap, Anda akan mengingat rasa takut. Orang-orang tidak pulang. Sulit, tetapi semuanya baik-baik saja,” kata pria yang pernah bertugas di perang Vietnam tahun 1971 tersebut.
Baca Juga: Disdikbud Samarinda Sosialisasi Percepatan Pelaksanaan Sekolah Unggulan
Meski gejolak perang itu pernah ia rasakan, Ken berpesan kepada generasi muda untuk tidak pernah berperang. Ia dan masyarakat Australia lainnya, masih ingat orang-orang yang menghancurkan negara.
“Anda lihat, foto-foto Balikpapan setelah pertempuran (perang dunia II) berakhir. Tidak ada yang tersisa. Pohon-pohon semuanya tumbang dan tidak ada apa-apa,” katanya.
Menurutnya, perang menghancurkan negara dan orang-orang di dalamnya. Banyak orang tidak pernah pulih kembali, termasuk teman-temannya yang masih hidup setelah perang, namun terbayang kenangan kelam di masa lampau.
“Tetapi hari lainnya sudah baik-baik saja. Hari ini pun akan menjadi hari yang baik, karena kami sudah mengakhirinya. Kita akan sarapan dengan menu makan siang dan makan malam bersama keluarga,” tutup pria berusia 76 tahun tersebut. ***
Editor : Dwi Puspitarini