Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dorong Karya Anak Daerah Tembus Bioskop, Balikpapan Bangun Ekosistem Perfilman

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 17 Mei 2025 | 08:35 WIB

INDUSTRI FILM: Disparpora Balikpapan, PFN, serta para sineas lokal saat bertemu di ajang Ayo Ngobrol Film, di Kopi Bang Hotman Balikpapan, Kamis (15/5).
INDUSTRI FILM: Disparpora Balikpapan, PFN, serta para sineas lokal saat bertemu di ajang Ayo Ngobrol Film, di Kopi Bang Hotman Balikpapan, Kamis (15/5).
KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN-Mimpi besar agar film karya anak-anak Balikpapan bisa diputar di bioskop kota sendiri mulai menemukan jalannya.

Bukan sekadar diputar di festival atau acara komunitas, kini ada dorongan serius agar sineas lokal naik kelas dan bersaing di ruang-ruang pemutaran film komersial.

Geliat perfilman lokal di Kota Minyak tak lagi sebatas semangat komunitas. Dukungan dari pemerintah daerah, khususnya melalui Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disparpora) Balikpapan mulai diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri film yang mandiri, kolaboratif, dan berbasis budaya lokal.

“Balikpapan Film Festival bukan hanya milik para pelaku film, tapi milik kita bersama untuk mengangkat citra kota ini melalui media visual yang kuat dan menyentuh,” tutur Kepala Disparpora Balikpapan Ratih Kusuma pada kegiatan Ayo Ngobrol Film, di Kopi Bang Hotman Balikpapan, Kamis (15/5).

Disampaikan pula oleh Ratih, bahwa festival yang akan segera digelar ini bukan sekadar ajang pemutaran, melainkan ruang temu lintas sektor yang membuka peluang kolaborasi baik lokal, nasional, maupun internasional.

“Kami ingin menjajaki kolaborasi, baik di level lokal, nasional, maupun internasional. Dengan adanya kegiatan seperti ini, kami mengajak semua pihak untuk siap berkarya bersama. Ini juga menjadi sinyal bahwa anak-anak Balikpapan siap menunjukkan potensinya,” lanjut Ratih.

Salah satu fokus ke depan adalah mendorong hasil karya lokal agar bisa tayang tidak hanya di platform digital, tetapi juga di jaringan bioskop di Balikpapan.

Menurutnya, apresiasi tidak hanya datang dari seleksi festival, tetapi juga dari bagaimana publik kota sendiri bisa menonton dan mendukung karya anak daerah.

“Film tidak harus besar. Tapi cukup orisinal, menyentuh, dan punya identitas. Itu yang kami dorong,” tambah Ratih.

Dirinya juga menyebutkan, telah ada sejumlah film lokal sudah menembus panggung nasional dan internasional, seperti Save Mangrove yang tayang di Prancis, juga ada Ikhlas serta Septia yang telah ditayangkan secara nasional.

Ratih juga menekankan pentingnya eksplorasi narasi lokal sebagai kekuatan utama perfilman Balikpapan.

“Kisah lahirnya Balikpapan dari sudut pandang budaya pesisir bisa jadi cerita menarik. Ini bukan hanya tentang tarian atau pertunjukan, tapi bagaimana kita mengarsipkan identitas kota lewat film,” ucap Ratih.

Di sisi lain, para sineas, musisi, dan pelaku kreatif lokal pun mulai menjalin kerja sama dan membentuk grup kolaboratif lintas bidang.

Mereka tidak hanya memproduksi film, tetapi juga menyusun strategi advokasi kebijakan serta pengembangan jaringan pendanaan dan distribusi.
Disparpora pun membuka diri untuk diskusi terbuka bersama komunitas film.

“Kami sangat mendukung dunia perfilman, khususnya di Balikpapan. Ini menjadi wadah untuk menampung masukan dan ide-ide segar dari para sineas muda Balikpapan,” pungkas Ratih. (*)

Editor : Almasrifah
#Ratih Kusuma #bioskop #disparpora #perfilman #film festival #balikpapan