KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Bak jatuh tertimpa tangga pula. Begitu kira-kira nasib para pengemudi ojek online (ojol) saat ini. Padahal mereka masih berupaya memperjuangkan nasibnya soal tarif, namun di sisi lain kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jadi masalah baru.
Itulah yang disuarakan ratusan ojol saat menggelar aksi di depan Balai Kota Balikpapan, pada Selasa (20/5) pagi. Aksi yang berlangsung serentak di beberapa daerah di Indonesia ini, sebagai bentuk protes mereka atas tarif yang diberlakukan aplikator.
Beberapa tuntutan pun disampaikan, termasuk soal penyamaan tarif pengantaran barang dan makanan dengan penumpang. Di mana, tarif yang diberlakukan saat ini, sangat merugikan para pengemudi.
“Makanya dalam audiensi dengan pemerintah kota dan DPRD Balikpapan, kami meminta untuk diterbitkan Perwali (peraturan wali kota) soal penyamarataan tarif ini. Juga, dari teman-teman R4 (roda empat) menyampaikan soal SK Gubernur Kaltim soal tarif reguler yang tidak diberlakukan oleh aplikator,” jelas salah satu juru bicara ojol yang juga Ketua Garda Kota Balikpapan Joe Satimura.
Dia menambahkan, tarif pengantaran makanan dan barang saat ini sangat murah jika dibanding pengantaran penumpang. Untuk penumpang, mereka bisa memperoleh sekitar Rp 9 ribu, sementara makanan dan barang bervariatif mulai dari Rp 6 ribu-Rp 8 ribu. Dengan jarak tempuh yang sama yakni 4 kilometer.
Di tengah polemik tarif tersebut, pria yang akrab disapa Bang Joe ini pun angkat bicara terkait kelangkaan BBM jenis Pertamax saat ini. Mengingat, mereka salah satu jasa yang sangat bergantung dengan bahan bakar tersebut.
“Sedih juga sebagai ojol yang betul-betul pengguna BBM. Saat ini Pertamax langka dan antre di SPBU itu luar biasa mengular. Kebanyakan yang demo ini juga memilih tidak narik penumpang karena khawatir pas narik kehabisan bensin di tengah jalan. Lalu eceran sudah jarang sekarang. Jadi, kami kesulitan sekali,” tandasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani