Sejak lama, Balikpapan menjadi tujuan para pendatang dari seluruh penjuru Indonesia. Masyarakat dari berbagai suku daerah—seperti Bugis, Banjar, Jawa, hingga Mandar—berbaur untuk bekerja dan berdagang, mengadu nasib di kota ini.
Meskipun kerap disebut “tidak punya bahasa daerah”, akulturasi yang terjadi justru menciptakan bahasa pergaulan khas yang hingga kini hidup di tengah masyarakat.
Warga Balikpapan memiliki bahasa pergaulan lokal yang unik. Bahasa ini terbentuk dari percampuran dialek, logat, serta istilah yang kadang sulit dipahami pendatang.
Uniknya, istilah-istilah ini digunakan lintas generasi, dari pasar tradisional, sekolah, forum non-formal, hingga konten media sosial.
Berikut adalah daftar lengkap kosakata gaul Balikpapan yang lazim digunakan sehari-hari.
Daftar Kosakata Bahasa Pergaulan Warga Balikpapan
Makanan dan Camilan
Bombon: Permen.
Wade: Kue.
Sanggar: Pisang goreng.
Terang bulan: Martabak manis.
Untuk-untuk: Roti isi kacang hijau.
Ote-ote: Bakwan.
Salome: Sebutan untuk camilan mirip cilok atau pentol bakso.
Karamunting: Buah khas Kalimantan.
Mageli: Makanan dari kacang hijau.
Sapaan dan Panggilan
Bubuhan: Teman-teman atau kerabat. Istilah ini berasal dari bahasa Banjar. Contoh: “Bubuhanmu kemarin datang ke sini.”
Ces, Po’, Wal: Panggilan akrab untuk teman atau sobat, digunakan lintas gender.
Ces diperkirakan berasal dari akronim CS (cinta sejati).
Po’ diperkirakan berasal dari kata Sappo dalam bahasa Bugis yang berarti sepupu.
Wal diserap dari bahasa Banjar kawal yang berarti teman.
Lelek / Pale: Sapaan untuk penjual makanan laki-laki. Diperkirakan berasal dari bahasa Jawa, paklek.
Bos Cowok / Bos Cewek: Sebutan untuk ayah dan ibu.
Kata Sifat dan Perilaku
Bote / Botek: Bohong. Sebagian menyebut Bote merupakan singkatan dari Bohong Terus. Contoh: “Jangan bote kamu!”
Waluh / Ungah / Pujungan: Perilaku yang dibuat-buat atau tidak natural. Kata waluh juga sering beririsan dengan bote, namun lebih merujuk ke pura-pura.
Lanji / Kijil: Genit atau ganjen, biasanya merujuk pada perilaku yang menggoda lawan jenis.
Mucil: Nakal. Contoh: “Kamu mucil sih waktu sekolah, makanya tidak naik kelas!”
Munyak: Sebal, kesal, atau merasa terganggu. Serapan dari kata muyak dalam bahasa Banjar.
Sekek / Seke: Pelit atau kikir.
Gonggong / Haw-haw / Pengong / Tambuk: Bodoh atau aneh.
Jibang: Jijik banget.
Palabatu: Keras kepala.
Begajulan: Norak.
Letoy: Lemas.
Singkip: Tidak punya uang atau bokek.
Pedis: Perih atau pedas.
Culas: Curang.
Kepok: Kapok.
Kata Kerja dan Ungkapan
Ambung: Melambungkan sesuatu, seperti kartu atau layangan.
Isdet: Mati.
Nyepai / Sepai: Mencuri. Dalam pergaulan, bisa juga berarti mengambil diam-diam barang teman.
Tewa: Ketahuan, biasanya dalam permainan petak umpet.
Tepatak: Terjebak, macet total, atau tersudut.
Tekeliwai / Tekipay / Tekempal: Tergelincir atau terlempar.
Tepelecok / Etpelecok: Keseleo.
Dostep: Menemukan pertama kali, digunakan untuk menyatakan kepemilikan atas sesuatu yang jatuh.
Ngolok: Mengejek.
Siup: Pingsan.
Kekmana: Bagaimana.
Kestau: Kasih tahu.
Lindung: Tertutup atau terhalangi.
Nebeng: Numpang.
Nyantap: Nyicip.
Ndada: Tidak ada.
Ndosah: Tidak usah.
Ngeramput: Ngawur.
Ngendok: Sembunyi.
Padalan: Padahal.
Mutung: Mulut.
Istilah Lainnya
Kuluk-kuluk: Ungkapan untuk memanggil hujan, biasanya saat cuaca panas menyengat.
Angsul: Uang kembalian.
Skalput: Akronim dari ‘sekali putaran’, yang berarti berjalan-jalan keliling kota.
Patah pensil: Istilah untuk orang yang putus sekolah, tidak berpendidikan, atau sulit diajak berdialog.
Tabe: Permisi atau mohon maaf. Kata serapan dari bahasa Bugis dan Makassar.
Kecele: Tertipu.
Burit: Pantat.
Mereng: Miring.
Benggolan: Uang koin atau uang receh.
KT: Plat kendaraan.
Strat: Jalan raya.
Taksi: Angkot.
Cung: Time out atau belum siap dalam permainan.
Simao: Masih mau.
Anjoy: Sialan.
Kokos: Kartun.
Kerpe’an: Kertas contekan.
Cakaran: Kertas coretan untuk menghitung soal matematika.
Bangkong: Bangun siang.
Pulangan / Masukan / Mainan: Saatnya pulang / masuk / bermain.
Lain: Bukan. Contoh: “Lain itu yang kucari.”
Bejibun: Banyak sekali atau menumpuk.
Betul: Sangat. Contoh: “Jauh betul eh” (sangat jauh).
Kompek: Istilah untuk menyebut kantong kresek atau kantong plastik.
Ketengan: Eceran.
Sengget: Tongkat untuk mengambil buah yang tinggi.
Imbuhan Sehari-hari:
Kah: Imbuhan pertanyaan di akhir kalimat.
Pang: Imbuhan penegas di akhir kalimat.
Gin: Imbuhan bujukan di akhir kalimat.
Lah: Imbuhan yang mengekspresikan pasrah di akhir kalimat.
Bahasa pergaulan Balikpapan menjadi cermin dari keragaman kota ini. Ia hidup, tumbuh, dan terus berkembang seiring pergaulan warganya. Dari pasar hingga sekolah, dari obrolan santai hingga unggahan media sosial—bahasa ini membentuk identitas lokal yang kuat dan khas.
Kalau kamu baru di Balikpapan, jangan heran kalau dibilang “kecele” atau dikasih “angsul” saat beli “sanggar”.
Sekarang kamu sudah tahu artinya, bukan? Kamu tahu bahasa Balikpapan apa lagi?
Editor : Uways Alqadrie