Namun, di balik citra kemajuan dan nama besar itu, ada beberapa ironi yang akan kamu temukan jika tinggal di kota ini. Hal-hal yang kadang membuat kita geleng-geleng kepala dan perlu jadi perhatian bersama, terutama bagi para pemangku kebijakan. Yuk, kita kupas satu per satu!
Ironi BBM: Antre di Kota Kilang Minyak
Pernah nggak sih mau isi bensin dan lagi buru-buru, tapi malah kejebak antrean panjang di SPBU? Ironisnya, hal itu sering terjadi di Balikpapan, kota yang punya kilang minyak raksasa Pertamina RU V salah satu yang terbesar di Indonesia.
Setiap hari, ribuan barel bahan bakar diolah di sini mencapai 260.000 barel per hari bahkan baru ditingkatkan menjadi 360.000 barel per hari. Namun, kelangkaan BBM bersubsidi seperti Pertalite atau bahkan Pertamax bukan hal aneh.
Warga seringkali harus mengantre panjang berjam-jam, bahkan kadang harus pulang dengan tangan kosong karena stok habis. Gimana nggak geleng-geleng kepala, kota penghasil energi, tapi rakyatnya malah kesulitan dapat bahan bakar.
Ironi Air: Krisis di Kota Paling Layak Huni
Rasanya baru kemarin Balikpapan dinobatkan sebagai kota paling layak huni di Indonesia. Tapi coba tanya teman atau tetangga, apa mereka sudah punya akses air bersih 24 jam dari PDAM?
Faktanya, Perumda Tirta Manuntung (PDAM Balikpapan) mengakui adanya tantangan besar. Saat ini, terdapat sekitar 14.000 permohonan sambungan rumah baru, namun hanya sekitar 10.000 yang dapat dilayani. Masih banyak warga yang berjuang dengan pasokan air bersih.
Sumber air baku utama dari Embung Manggar dan Teritip seringkali tidak mencukupi, apalagi saat musim kemarau panjang. Akibatnya, banyak warga harus mengandalkan tangki air keliling, yang biayanya tentu tidak murah. Kebutuhan dasar seperti air kok masih jadi PR, ya?
Ironi Anak: Pernikahan Dini di Kota Layak Anak
Kita bangga punya label Kota Layak Anak, yang seharusnya menjamin hak dan perlindungan anak-anak. Namun, fenomena pernikahan dini masih menjadi pekerjaan rumah serius.
Menurut data dari Sistem Informasi Gender dan Anak (SIGA) Kalimantan Timur, pada tahun 2024, Kota Balikpapan menduduki peringkat pertama di Kalimantan Timur dengan jumlah kasus pernikahan dini terbanyak, yaitu 52 kasus. Disusul Kota Samarinda 48 kasus dan sejumlah kabupaten/kota lainnya.
Banyak anak remaja, terutama perempuan, terpaksa menikah di usia yang seharusnya masih diisi dengan kegiatan sekolah dan bermain. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kehamilan di luar nikah dan kondisi ekonomi.
Label Kota Layak Anak terasa hambar jika perlindungan dan masa depan anak-anak belum sepenuhnya terjamin. Isu ini butuh perhatian serius.
Ironi Lingkungan: Kota Minyak, Korban Minyak
Tahun 2018 adalah pengingat menyakitkan bagi Balikpapan. Peristiwa tumpahan minyak di Teluk Balikpapan jadi bukti bahwa julukan "Kota Minyak" juga bisa membawa bencana.
Tumpahan ini bukan cuma merusak lingkungan laut dan pesisir, termasuk hutan bakau, tapi juga menyebabkan kebakaran yang menewaskan lima orang.
Dampak ekologis dan trauma psikologis dari kejadian ini masih terasa hingga kini. Kota yang hidup dari minyak, justru pernah jadi korban minyak itu sendiri. Sebuah ironi yang meninggalkan luka mendalam.
Ironi Pembangunan: Gerbang IKN yang Belum Merata
Wajah Balikpapan itu kan "IKN banget" ya? Pembangunan terlihat massif sebagai kota penyangga utama yang paling dekat dengan IKN. Jalan tol menuju IKN pun sedang dibangun di sini.
Tapi coba geser sedikit ke wilayah pinggiran. Masih banyak area yang minim akses jalan, fasilitas pendidikan, atau layanan kesehatan. Masih banyak jalan raya bergelombang, berlubang, dan minim sorotan.
Hal itu membuat jurang kesenjangan semakin lebar. Balikpapan memang jadi gerbang, tapi ada sisi "belakang" yang belum tersentuh pembangunan.
Refleksi Bersama
Kelima ironi ini penting untuk disadari dan menjadi evaluasi bersama sehingga menjadi cermin agar kita bisa berbenah. Balikpapan punya potensi luar biasa—tinggal bagaimana kita semua, dari pemerintah sampai warganya, bisa bersinergi merawatnya.
Karena Balikpapan bukan cuma "Kota Minyak", tapi rumah bagi ratusan ribu harapan. Kalau menurut kamu, ironi apalagi yang kamu rasakan di Balikpapan?
Editor : Uways Alqadrie