KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Sosok ibu berjilbab pink ikut menyampaikan orasi saat demo di depan Kantor DPRD Balikpapan, Senin (1/9). Dengan lantang memegang microphone langsung menyita perhatian demonstran.
Dia adalah Ama Ani, warga Kilometer 6 Balikpapan yang mengeluhkan persoalan sistem penerimaan murid baru (SPMB). Tahun ini sang putri seharusnya masuk ke kelas 7 SMP. Namun sayang akibat sistem domisili. Dia mengaku, sang putri gagal masuk sekolah negeri. Mau bersaing di jalur umum pun sulit karena terkendala nilai.
Baca Juga: Antisipasi Tindakan Kekerasan saat Demo, BBH Balikpapan Beri Pendampingan Hukum
"Anak saya mau sekolah saja kenapa harus dipersulit," tuturnya. Dia mengatakan, sebagai seorang ibu tentu punya cita-cita anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Masalah ini juga sempat viral beberapa waktu lalu di media sosial. Kala itu, Ama menceramahi anaknya yang tidak memiliki nilai tinggi. Sebab akhirnya sulit masuk ke sekolah negeri.
Dia mengaku sempat sakit hati diamuk netizen di sosial media. "Pendidikan adalah kelanjutan masa depan anak. Mohon perbaiki bapak yang terhomst bisa mendengarkan aspirasi," tegasnya.
Jangan biarkan masyarakat terombang ambing mencari hak untuk mendapatkan pendidikan. Dia meminta Pemkot Balikpapan tidak membuat anak-anak putus sekolah akibat kebijakan. "Semoga bapak pimpinan yang ada di sini bisa mendengarkan keluhan saya. Jangan sampai tunggu viral dulu baru dapat penanganan," pungkasnya. (*)
Editor : Muhammad Rizki