KALTIMPOST.ID, Sosok Muhammad Nizam Ihsan Fadil adalah bukti bahwa panggung prestasi tidak hanya milik mereka yang ekstrovert.
Ia merupakan salah satu wajah pariwisata Kalimantan Timur. Pada tahun lalu, berhasil menyabet takhta tingkat provinsi menjadi Duta Wisata Kaltim 2024. Bersama Arum Janitra Larasati.
Buat kamu yang belum tau, pasangan Duta Wisata Kaltim 2024 ini akan mewakili Kaltim ke ajang pemilihan Duta Wisata Indonesia 2025 yang akan digelar pada November mendatang.
Pemuda yang akrab disapa Fadil ini memiliki kisah inspiratif tentang perjuangan melawan keraguan diri dan menemukan suara di tempat yang tak terduga. Yuk kenalan!
Di balik gelarnya, tersimpan perjuangan yang besar. Ia sempat dianggap “pencitraan” oleh orang sekitar, karena aslinya introvert dan lebih suka private life.
Namun Fadil berhasil membuktikan bahwa kontribusi nyata jauh lebih kuat dari sekadar citra. Dan mengubah stigma pencitraan menjadi tepuk tangan bangga dari sekitarnya.
Semenjak jadi Duta Wisata, Fadil lebih banyak belajar untuk tampil dan komunikasi di publik. Termasuk harus lebih ramah dan cheerful dibandingkan orang kebanyakan.
Perjalanan Transformasi dari Nol
Bagi seorang fresh graduate Hubungan Internasional yang kini bekerja sebagai tenaga ahli bahasa di humas dan protokol Pemkot Balikpapan, keputusan Fadil untuk mendaftar Duta Wisata Balikpapan awalnya hanya untuk mengisi waktu luang pasca-skripsi.
Tanpa latar belakang pariwisata dan dengan kemampuan public speaking yang ia akui masih kurang, Fadil melangkah dengan rasa tidak percaya diri namun penuh keberanian.
Namun, proses karantina selama 45 hari di tingkat kota menjadi titik baliknya. Ia dipaksa belajar keras hingga akhirnya berhasil meraih takhta Duta Wisata Balikpapan 2024.
Kemenangan ini membawanya ke tingkat provinsi, di mana ia kembali keluar sebagai juara. Ia berhasil membuktikan proses dan perjuangannya.
Visi dan Program: Pariwisata Inklusif dari Hati
Di tengah perjuangannya membangun kepercayaan diri, Fadil menemukan misi yang memberinya kekuatan: pariwisata inklusif. Ia dan rekannya, Arum Janitra, mengusung program SINAR (Suara Inklusif Nusantara).
Misi ini bukan sekadar program kerja, melainkan panggilan hati yang berakar dari pengalaman personalnya. Karena berada di lingkungan yang cukup dekat dengan teman-teman disabilitas.
"Saya kan SD di Patra Darma yang termasuk lebih welcome untuk autism. Jadi teman-teman saya ada yang autism, adik sepupu saya juga autism. Dan dari situ saya concern dan mau mulai di gerakan ini kalau wisata harus ramah untuk semua orang,” kata Fadil.
"Karna saya rasa kalau saya bisa berbuat sesuatu yang positif dan tidak merugikan saya kenapa enggak. Walaupun capek, dan hasilnya belum tentu bagus, tapi kita udah ngasi yang maksimal,” sambungnya.
Keluar dari Zona Nyaman, Lalu Bersinar
Muhammad Nizam Ihsan Fadil adalah representasi pemuda yang berani keluar dari zona nyaman dan mengubah keraguan menjadi aksi nyata. Perjalanannya membuktikan bahwa kontribusi paling tulus seringkali datang dari pengalaman paling personal.
Baginya, jika ada kesempatan, memang sebaiknya diambil. Lebih baik gagal karena mencoba daripada gagal karena tidak pernah mencoba.
“Jika kesempatan itu ada, ambil, karena lebih baik gagal ketika ambil kesempatan itu dari pada kita nggak ambil itu sama sekali dan nggak tau bisa sejauh mana," pesan Fadil menutup. (*)
Editor : Almasrifah