Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Bukan Sekadar Hiasan, Gapura di Balikpapan Ini Terbuat dari Ekobrik Berisi Ratusan Kilo Sampah Plastik

Khoirun Nisa • Selasa, 14 Oktober 2025 | 17:51 WIB

Potret gapura RT 21 Manggar Baru Balikpapan. (Nisa/KP)
Potret gapura RT 21 Manggar Baru Balikpapan. (Nisa/KP)
KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN- Warga RT 21 Kelurahan Manggar Baru Balikpapan membuktikan bahwa sampah plastik bisa menjadi karya nyata. Lewat inovasi ekobrik, mimpi memiliki gapura lingkungan yang indah terwujud tanpa biaya mahal, sekaligus mengurangi limbah yang tak laku dijual.

Di saat banyak yang pusing dengan tumpukan sampah plastik, sudah tak laku dijual, tidak bisa didaur ulang, dan jadi beban TPS. Namun warga di RT 21 Kelurahan Manggar Baru justru mengubahnya menjadi sebuah kebanggaan. 

Sekitar 500 botol bekas berisi ratusan kilo sampah plastik yang dulu berpotensi berakhir di TPA, kini berdiri kokoh sebagai gapura lingkungan yang unik, penuh warna, dan dibangun dengan semangat gotong royong. Bertuliskan RT 21 Manggar Baru. 

Inisiatif ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga jawaban cerdas atas dua masalah sekaligus: sampah yang tak laku dijual dan keinginan memiliki fasilitas lingkungan dengan biaya minim.

Berawal dari Mimpi Gapura, Lahirlah Solusi Ekobrik

Menurut Ketua RT 21 Kelurahan Manggar Baru, Farida Kartika, ide ini lahir dari mimpi sederhana untuk membangun sebuah gapura sebagai penanda lingkungan. 

Namun, biayanya yang mahal menjadi kendala. Di sisi lain, Bank Sampah Barokah 21 milik mereka masih memiliki banyak sampah plastik sisa yang tidak bisa dijual, seperti bekas guntingan kemasan dari kerajinan lain.

“Kami berpikir, bagaimana caranya sampah yang tidak laku ini bisa dimanfaatkan untuk bikin gapura dengan biaya minim? Akhirnya pada Juli 2025, muncullah ide ekobrik ini,” ungkap Farida saat diwawancarai Kaltim Post baru-baru ini. 

Kreativitas ini, di Kota Balikpapan, baru dilakukan di RT 21 Kelurahan Manggar Baru. Terlebih warga di sana memang telah memiliki sistem bank sampah pengelolaan yang cukup oke. Mulai dari pemilahan sampah, daur ulang sampah plastik menjadi kerajinan, hingga sampah organik yang jadi eco enzym dan pupuk. 

Selain bermanfaat, sebagian sampah yang terjual atau menjadi karya, mampu menghasilkan cuan tambahan bagi warga di sana. Selain mengurangi sampah, juga menambah pemasukan. 

Strategi Jitu Lomba 17-an yang Bikin Warga Semangat

Singkatnya, ide yang lama tercetus tersebut, baru mulai direalisasikan pada Juli 2025 lalu. Untuk mengumpulkan 500 botol ekobrik dalam waktu singkat, kekompakan warga menjadi kunci. 

Warga diminta mengumpulkan sebanyak-banyaknya botol bekas ukuran 1,5 liter yang sudah diisi dan dipadatkan dengan sampah plastik. Agar warga makin termotivasi, pengurus RT bikin perlombaan dalam kemeriahan HUT Kemerdekaan RI Agustus lalu. 

“Kami adakan lomba unik saat perayaan 17 Agustus: siapa yang menyumbangkan ekobrik terbanyak akan mendapat hadiah sembako. Strategi ini sukses besar memicu semangat gotong royong warga,” jelas Farida.

“Satu botol itu bisa menampung sampah dari tiga kantong plastik besar. Benar-benar padat,” tambahnya Farida.

Kolaborasi Apik Warga dan Mahasiswa

Proyek ini juga menjadi contoh kolaborasi yang apik. Sebagai informasi, adanya gapura tersebut turut dibantu oleh mahasiswa Uniba yang sedang KKN di kawasan itu. 

Pihak RT menyediakan bahan baku seperti besi untuk kerangka, sementara para mahasiswa KKN yang sedang bertugas di lingkungan mereka membantu dalam proses teknis.

“Kami belikan besinya, lalu anak-anak KKN yang membantu mengelas kerangkanya. Warga fokus mengumpulkan dan mengisi botolnya,” tutur Farida.

Hasilnya bisa dilihat langsung di lingkungan RT 21. Sebuah gapura setinggi sekitar dua meter berdiri kokoh, menampilkan mozaik warna-warni dari kemasan plastik. Keren kan! 

Tak Cuma Hiasan, Ekobrik Juga Bernilai Jual

Inovasi warga Manggar Baru ini ternyata juga memiliki potensi ekonomi. Selain digunakan untuk fasilitas RT, ekobrik buatan mereka juga punya potensi untuk laku dijual. 

Harga jualnya mulai dari Rp1.000 hingga Rp15.000 per botol, tergantung ukuran dan kepadatan.

Dengan potensi pasar mulai dari sekolah, komunitas, atau pihak lain yang ingin membuat furnitur luar ruang seperti meja, kursi, atau dinding non-struktural.

Farida berharap inovasi ini bisa direplikasi oleh RT lain dan mendapat dukungan dari pemerintah untuk pemanfaatan yang lebih luas. Dukungan dari dinas terkait tentu sangat diharapkan. 

Apa yang dilakukan warga RT 21 adalah bukti nyata bahwa solusi masalah lingkungan seringkali datang dari inisiatif skala kecil yang dilakukan dengan konsisten dan kreatif.

Editor : Uways Alqadrie
#Ekobrik #sampah plastik Balikpapan #Kelurahan Manggar Baru #balikpapan