KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Batik kini tidak lagi identik dengan pakaian formal atau acara resmi. Di era modern, batik telah berevolusi menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih kasual dan dinamis, termasuk dalam dunia fashion streetwear. Inovasi ini juga dilakukan oleh Iwatik Balikpapan, yang berupaya mendekatkan batik kepada generasi muda lewat desain dan warna yang lebih modern.
Owner Iwatik Balikpapan, Yuni Rachmawati, mengatakan bahwa tantangan utama dalam melestarikan batik adalah mengubah cara pandang anak muda terhadap kain tradisional tersebut. Menurutnya, batik sering dianggap “tua” atau kuno, padahal memiliki nilai budaya dan estetika yang tinggi.
“Kita perlu mengubah mindset mereka bahwa batik bisa menjadi global. Dari ide kreatif, kita bisa mendesain motif dan warna yang sesuai selera anak muda. Saat mengenakan batik, mereka bukan hanya tampil keren, tapi juga ikut mengangkat nilai budaya dan sustainability,” ujar Yuni dalam program talkshow di Radio KPFM Balikpapan, Senin (27/10/2025).
Yuni menjelaskan, batik tulis memang memiliki harga yang relatif tinggi karena proses pembuatannya yang rumit. Namun, pihaknya mencoba menyesuaikan dengan selera dan kebutuhan pasar muda melalui desain yang lebih fleksibel dan kombinasi kain yang lebih ringan.
“Kalau kita padankan dengan konsep yang sesuai gaya anak muda sekarang, mereka akan merasa tetap oke meski memakai batik,” katanya.
Lebih lanjut, Yuni menyebut bahwa setiap motif batik memiliki makna dan cerita tersendiri. Namun, ia menekankan pentingnya memberi ruang bagi generasi muda untuk bereksperimen dan berkreasi dengan motif baru tanpa harus terikat pada pakem tradisional.
“Dulu, batik punya aturan tersendiri—seperti motif tertentu hanya boleh dipakai pada upacara pernikahan atau prosesi adat. Sekarang kita lebih terbuka. Anak muda bisa membuat motif sendiri sesuai kepribadian mereka. Yang penting, prosesnya tetap melalui teknik membatik seperti mencanting atau cap,” jelasnya.
Konsep street fashion yang diusung Iwatik Balikpapan bertujuan menjadikan batik sebagai busana yang bisa dipakai dalam berbagai kesempatan.
“Anak muda jarang sekali memakai batik. Karena itu, kami ingin menghadirkan konsep fashion street agar batik bisa digunakan everytime, everyday, everywhere. Tidak hanya saat acara resmi, tapi juga di keseharian,” tutur Yuni.
Melalui langkah ini, Iwatik Balikpapan berharap batik tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup modern yang membanggakan bagi generasi penerus.(*)
Editor : Duito Susanto