KALTIMPOST.ID-Tahun ini, Perum Bulog Kanwil Kaltim-Kaltara mencatat realisasi serapan beras dari petani mencapai 9.500 ton. Itu jauh lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Itu pun sesuai dengan ketentuan yang dikeluarkan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Bulog Kaltim-Kaltara sangat menjaga kualitas beras yang diserap dari petani.
Khususnya terkait gabah yang akan diolah menjadi beras kelas medium. “Persyaratan ketat mengenai kadar air dan butir patah (broken) ini dijaga,” kata Kepala Perum Bulog Kanwil Kaltim-Kaltara Musazdin Said.
Pihaknya telah menyalurkan bantuan pangan untuk mendukung program pemerintah. “Bantuan pangan alokasi Oktober dan November kurang lebih 2.450 ton,” ujarnya.
Kemudian penjualan beras SPHP sebagai upaya stabilisasi harga beras di pasaran. “Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), proyeksi distribusi sekitar 14.000 ton beras hingga Desember,” bebernya.
Sementara saat ini, Bulog memiliki cadangan stok hingga 28.900 ton. Khusus menjamin ketahanan pangan di wilayah Kaltim dan Kaltara.
“Stok tersebar di 8 kompleks gudang dengan 15 unit gudang,” ucapnya saat menjadi pembicara Ancaman Kaltim di Tengah Kerentangan Pasokan Pangan, Senin (1/12).
Gudang berlokasi di Samarinda, Berau, Paser, Tarakan, Bulungan dan lainnya. Musazdin meyakini stok beras di gudang Bulog Kaltim-Kaltara tetap aman hingga musim panen kembali tiba 2026.
Pihaknya telah melakukan perhitungan cadangan milik pemerintah daerah. Baik untuk bencana alam hingga distribusi ke daerah kekurangan pangan seperti gagal panen.
“Jadi ini sudah termasuk hitungan bertahan penyaluran hingga Januari sampai musim panen tiba,” tuturnya. Selain beras SPHP, Bulog menyediakan beras kelas premium.
Target sasaran kelas menengah ke atas. Ada berbagai ketersediaan pilihan beras berkualitas menjelang Nataru. Bulog memastikan keterjangkauan, ketersediaan, dan stabilisasi harga.
Dia mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir. “Ketersediaan beras di Kaltim, kami cukup sangat memadai untuk suplai keterjangkauan pangan,” tutupnya. (rd)
Editor : Romdani.