KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Memasuki musim penghujan, berbagai wilayah kembali meningkatkan kewaspadaan. Kondisi geografis dan curah hujan yang mulai tinggi membuat sejumlah kawasan harus memberi perhatian lebih terhadap potensi bencana.
Kelurahan Gunung Sari Ulu (GSU) menjadi salah satu area yang kini mendapat sorotan. Struktur topografi berbukit dan permukiman yang berdiri di lereng membuat kawasan ini memiliki tingkat kerawanan longsor yang relatif tinggi.
Peringatan kewaspadaan disampaikan langsung oleh Lurah Gunung Sari Ulu, Rendra Hermawan. Ia meminta para ketua RT, relawan, dan warga memperkuat pemantauan wilayah selama intensitas hujan meningkat.
“Kami mengimbau kepada ketua RT dan seluruh stakeholders kelurahan serta masyarakat melalui rapat koordinasi rutin. Saat hujan turun, kami juga memberikan imbauan melalui grup WhatsApp agar ketua RT segera memonitor wilayahnya masing-masing,” ujarnya.
Rendra menjelaskan bahwa warga harus peka terhadap tanda-tanda awal longsor, seperti retakan tanah, suara gemuruh, atau perubahan kondisi tanah di sekitar rumah.
“Jika melihat kondisi seperti itu, warga diminta segera mencari lokasi yang aman untuk menyelamatkan diri dan keluarga. Setelahnya, laporkan kepada ketua RT, relawan Katana, kelurahan, atau BPBD Kota Balikpapan untuk penanganan cepat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak beraktivitas di area curam atau dekat tebing, serta menghindari drainase saat hujan deras karena potensi bahaya yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Baca Juga: Transformasi Posyandu Balikpapan Selatan Mulai Bergulir, Kader Ungkap Tantangan Baru
Selain itu, Rendra menekankan peran ketua RT dalam mengingatkan warga agar tidak mendirikan bangunan di daerah rawan longsor. Pembangunan yang tidak memperhatikan kontur tanah, katanya, justru dapat meningkatkan risiko bagi penghuni maupun lingkungan sekitar.
Di wilayah GSU, terdapat sekitar 20 titik rawan longsor yang kini menjadi perhatian utama pemerintah kelurahan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, ketua RT, relawan, dan warga menjadi kunci penting dalam meminimalkan risiko bencana selama musim hujan. (*)
Editor : Ery Supriyadi