BALIKPAPAN - SMP 21 Balikpapan berhasil membuat produk media tanam kompos dan FABA yang disebut Metakonaba. Ada peran Dimas Saputra, guru yang menjadi inisiator inovasi tersebut.
Awalnya inovasi ini merupakan bahan untuk ajang Krenova 2023 yang digelar Pemkot Balikpapan. Dimas bercerita, ide pemanfaatan fly ash dan bottom ash (FABA) datang dari siswa.
Mereka penasaran saat melihat limbah batu bara dari perusahaan sekitar sekolah. Apalagi teksturnya lembut dan menarik perhatian. Akhirnya mencari tahu seputar FABA dan manfaatnya.
Hingga akhirnya bisa membuat media tanam tersebut. “Saat itu belum pernah di Kalimantan memanfaatkan FABA menjadi media tanam. Apalagi dari sekolah,” katanya. Kali pertama percobaan dengan menanam cabai di polybag. Pihaknya melakukan reset kurang lebih enam bulan untuk menemukan formula terbaik. Gabungan dari tanah, kompos, dan FABA.
Bahkan dari inovasi ini, Dimas dan tim berhasil meraih Juara I Krenova 2023 kategori akademisi. Terutama unggul dari keberlanjutan pemberdayaan masyarakat. “Jadi dari sisi edukasinya tinggi,” sebutnya.
Bahan baku yakni FABA berasal dari suplai perusahaan sekitar SMP 21. Sedangkan untuk kompos mengandalkan kotoran hewan dari ayam dan kambing. Ini dikumpulkan dari Balikpapan Utara dan Balikpapan Barat.
Kotoran hewan ini juga harus matang. Maksudnya kering, tidak ada air dan jamur. “Kita juga tambah dari kotoran daun-daunan. Kita jemur di lapangan sampai nanti kering sekali,” tuturnya.
Selanjutnya daun kering ini berubah menjadi seperti pasir karena teksturnya hancur. Begitu pula untuk tanah harus benar-benar kering. “Kalau ada cacingnya malah bagus. Jadi tanahnya memang tanah hitam,” bebernya.
Semua bahan dicampur untuk dikemas. Metakonaba dijual seharga Rp 15 ribu untuk kemasan 4 kilogram. “Selama ini kami jual ketika ada event-event. Sejak dua tahun terakhir mungkin sudah ratusan pack terjual,” ungkapnya.
Dimas mengakui, Metakonaba belum melalui produksi secara konsisten dan massif. Saat ini pihaknya gencar sosialisasi kepada masyarakat sekitar agar mau berpartisipasi dalam produksi Metakonaba.
“Kami mengenalkan dulu apa saja bahan-bahannya dan peluang nilai ekonomi dari produk ini,” ucapnya. Pihaknya berharap warga tertarik dan mau aktif bekerja sama dalam produksi massal. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki