BALIKPAPA - Pascabencana, akses terhadap air bersih seringkali menjadi masalah krusial yang mengancam kesehatan dan kelangsungan hidup korban. Hal inilah yang mendorong sekelompok relawan dari Balikpapan, Replika Kaltim untuk tergerak dan mengulurkan tangan.
Dengan fokus pada isu lingkungan dan air, mereka menyasar daerah-daerah terdampak. Termasuk Aceh Tamiang untuk memberikan solusi berupa penyediaan air bersih yang mandiri.
Replika Kaltim digagas oleh Nur Ivansyah atau yang akrab disapa Panca. Ide ini berawal dari keprihatinan terhadap kondisi air di lingkungannya sendiri di Kelurahan Gunung Sari Ulu, Balikpapan Tengah.
“Misi saya bagaimana Kaltim, Balikpapan itu merdeka air dan bergerak sosial. Kenapa saya membuat replika itu karena kondisi kita ini susah air. Dan itu menjadi sumber kehidupan vital, tanpa air ga bisa apa-apa,” ujar Panca.
Kepedulian itu tidak berhenti di Balikpapan saja atau daerah di Kaltim lainnya. Melihat kondisi darurat di Aceh Tamiang yang dilanda bencana, Panca bersama tiga relawan lainnya berinisiatif untuk turun langsung.
Mereka menemui fakta masyarakat sangat kesulitan mendapatkan air bersih dan sangat bergantung pada bantuan dropping air dengan tangki yang distribusinya tidak menentu.
“Mereka berharap bantuan, secara dropping pakai tangki kadang bisa 2 hari 3 hari belum tentu, kadang juga tidak ada sama sekali,” tuturnya.
Daripada hanya memberikan bantuan sesaat, Replika Kaltim memilih pendekatan yang memberdayakan. Mereka datang dengan misi mengolah air yang ada bahkan air yang keruh akibat banjir lumpur menjadi air layak konsumsi sehingga tidak ketergantungan dengan distribusi dropping.
Relawan menyediakan dan memasang peralatan seperti tandon, genset, pompa, dan unit filter di titik-titik kritis yang telah dipetakan sebelumnya.
Keunggulan sistem ini adalah kecepatan dan kesederhanaannya. “Air lumpur bisa langsung jadi bersih. Sistem pencucian filternya pun enggak susah,” tambah Panca.
Yang terpenting, tim Replika tidak hanya memasang alat lalu pergi. Mereka memberikan edukasi dan pelatihan maintenance kepada warga setempat. Tujuannya menciptakan kemandirian.
Warga diajarkan untuk merawat dan memanfaatkan alat tersebut, sehingga mereka bisa terus memiliki akses air bersih tanpa bergantung pada pihak luar.
Berkat mapping wilayah yang cermat, mereka berhasil memasang 20 titik air bersih di berbagai desa di Aceh Tamiang. Kehadiran titik-titik ini langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Banyak keluarga yang berdatangan ke posko relawan untuk meminta dibuatkan titik air bersih di wilayah mereka.
Keberhasilan aksi kemanusiaan ini dilandasi oleh semangat gotong royong. Replika Kaltim tidak memiliki anggaran khusus. “Kami tidak punya anggaran, tapi bagaimana kita sama-sama menyelesaikan masalah ini. Yang punya tenaga pakai tenaga, yang punya materi saling membantu,” tegasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki