KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kasus influenza A subtipe H3N2 atau yang dikenal sebagai “super flu” disebut mulai merambah sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat. Virus ini merupakan bermutasi membentuk varian baru yakni subclade K, dan mulai terdeteksi di penghujung 2025.
Hingga kini, belum ditemukan kasus terkonfirmasi di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan. Meski begitu, Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Balikpapan mulai memperketat pengawasan pintu masuk Kaltim, menyusul laporan peningkatan kasus virus tersebut.
Kepala BKK Balikpapan Bangun Cahyo mengatakan, seluruh penumpang internasional yang masuk ke wilayah Kaltim wajib mengisi aplikasi All Indonesia. Data tersebut digunakan untuk mendeteksi awal gejala penyakit menular, seperti batuk, pilek, dan demam, serta riwayat perjalanan dari negara asal.
Baca Juga: Super Flu Dominan Serang Anak, Kaltim Siaga Meski Belum Ada Kasus
“Setelah penumpang mengisi aplikasi, datanya masuk ke sistem kami untuk dianalisis. Jika ada yang dicurigai, kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihaknya juga memasang pemindai suhu tubuh (thermal scanner) di bandara, untuk mengantisipasi masuknya penumpang dengan gejala influenza. Pengawasan diperkuat dengan pemeriksaan sentinel Influenza Like Illness (ILI) atau penyakit mirip influenza bagi pelaku perjalanan yang menunjukkan gejala.
Dia menambahkan, bila ditemukan tanda-tanda influenza, pihaknya akan mengambil sampel spesimen untuk dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan di Jakarta. Untuk kemufian dilakukan genome sequencing, guna memastikan jenis virusnya.
Terkait surveilans sentinel ILI ini, Bangun menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan telah menjalankan program itu secara rutin di berbagai daerah, termasuk di Balikpapan. Sejumlah puskesmas ditunjuk untuk mengambil spesimen dari pasien dengan gejala batuk, pilek, dan influenza, yang kemudian diperiksa untuk mengetahui jenis virus, seperti H3N2, H5N1, H5N5, atau lainnya. Surveilans tersebut mencakup kasus dari luar negeri maupun dalam negeri.
“Kalau memang ada gejala yang mengarah ke influenza, pasti kita ambil sampelnya. Tapi kita pastikan dulu apakah benar itu influenza atau bukan,” tambahnya. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, lanjutnya, saat ini terdapat laporan peningkatan kasus influenza di tiga provinsi. Di antaranya Kalimantan Selatan dan Jawa Timur.
Situasi ini, kata Bangun, membuat pengawasan di Balikpapan, termasuk untuk penerbangan domestik, tetap dilakukan secara ketat. “Untuk penerbangan domestik, kami melakukan pemantauan visual dan berkoordinasi dengan maskapai. Jika ada penumpang dengan gejala penyakit menular, pihak maskapai akan menyampaikan kepada kami,” katanya.
Meski begitu, ia menyebut hingga saat ini, hasil pemantauan di Bandara SAMS Sepinggan menunjukkan kondisi aman. Pelaku perjalanan yang masuk ke wilayah kita rata-rata berstatus hijau, artinya dalam kondisi sehat.
Baca Juga: Dinkes Balikpapan: Kasus Flu Capai 7.385 di Desember 2025, Belum Ada Indikasi Super Flu
Sebelumnya, dia berkata sempat dilakukan evakuasi terhadap seorang anak buah kapal (ABK) asing dari kapal asal Australia sekitar dua bulan lalu. Namun, hasil pemeriksaan all patogen menyeluruh tidak menemukan adanya virus influenza.
Ia menegaskan, influenza merupakan penyakit yang bersifat endemis dan sudah lama ada di Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap melakukan pemantauan secara intensif. Jika ada gejala yang mengarah ke influenza, pihaknya mengimbau penggunaan masker, sebab belum diketahui apakah itu H3N2 atau flu biasa.
Terkait tingkat keparahan, Bangun menyebutkan belum ditemukan kasus dengan tingkat fatalitas atau kematian. “Fatality belum ada. Angka kesakitannya memang cukup banyak, dan proses penyembuhannya bisa lebih lama,” tuntasnya. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki