KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - SMP 21 sukses menggelar kegiatan pentas seni dan bazar, Spandusa Festival 4.0 sebagai wadah bagi siswa unjuk gigi. Siswa tidak hanya belajar teori praktik di kelas. Namun langsung mewujudkan dalam aksi nyata.
Kepala SMP 21 Marsudi mengatakan, kegiatan ini sudah rutin berjalan bagian dari kokurikuler. Bukan hanya menjadi tugas tambahan, tapi bertujuan agar siswa tidak hanya unggul secara akademik.
“Lewat kegiatan festival ini bisa terlihat hasil kerja sama tim antar siswa, kemampuan memecahkan masalah, dan keberanian siswa tampil unjuk gigi,” ungkapnya.
Tahun ini Spandusa Festival mengusung tema ‘Explorasi, Kreativitas, Jajanan Khas Daerah dan Modern sebagai Inspirasi serta Ekspresi Gen Z’. Ada penampilan proyek wirausaha, pentas seni, pameran karya, dan bazar.
Kegiatan ini buah dari proses diskusi panjang pemikiran siswa yang bisa terwujud dengan membanggakan. “Jadi siswa bisa belajar dari proses karena mereka terlibat langsung. Bukan hanya mengejar hasil,” bebernya.
Sejumlah prestasi sudah diraih siswa SMP 21 pada awal 2026. Seperti lima siswa lulus Pramuka Garuda. Serta siswa yang berhasil meraih gelar dalam kompetisi Sains dan Bahasa Tingkat Nasional kolaborasi IMF Universitas Mulawarman.
Sementara SMP 21 saat ini mengejar gelar Adiwiyata Nasional. “Kami berterima kasih kepada bantuan orangtua murid hingga perusahaan yang selama ini selalu memberi dukungan,” tuturnya.
Ketua Tim Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan SMP Disdikbud Balikpapan Muh Azwar mengatakan, pihaknya mendukung kegiatan seperti Spandusa Festival. Ini salah satu cara mendorong kreativitas siswa.
Seperti tema tahun ini perpaduan daerah dan modern. “Kita tetap mengikuti perkembangan zaman. Tapi tidak meninggalkan apa yang menjadi dasar budaya kita,” tuturnya.
Hal ini harus ditanamkan kepada siswa agar tetap menghargai peradaban yang ada. Misalnya mereka tahu bahwa ada tarian, jajanan, dan budaya lainnya yang khas Kalimantan.
“Karena kalau kita tidak ajarkan khawatirnya anak hanya melihat dari media sosial,” imbuhnya. Sehingga semua ciri khas daerah juga harus terlestarikan dalam era gempuran kecanggihan teknologi.
Serta tidak kalah penting, festival ini dapat memberi wawasan pembelajaran di dunia nyata. Siswa tidak hanya belajar teori di atas kertas. “Mereka tahu cara aplikasi di kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani