BALIKPAPAN - Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol memberi ‘kejutan’ dengan kunjungan lapangan ke Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (6/2/2026). Tanpa melibatkan pemerintah kota, Hanif ingin berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Khususnya terkait budaya dan sistem pengelolaan sampah rumah tangga. Seperti bertandang ke Kampung Phinisi Klandasan, Pasar Baru, Kampung Bungas, Pasar Pandansari, hingga Muara Rapak.
“Hari ini saya sengaja tak ingin dikawal oleh Pemkot Balikpapan agar dapat melihat dan berdiskusi dengan masyarakat secara langsung,” ungkapnya kepada awak media.
Hanif melihat hal-hal yang mesti diperbaiki dalam pengelolaan sampah di Balikpapan. Meski jalan protokol tampak bersih, sang Menteri menyoroti kondisi sungai dan pemukiman warga.
Menurutnya secara umum untuk kondisi di jalan protokol sudah bagus. “Tapi di beberapa titik seperti sungai dan permukiman banyak yang mesti diperbaiki. Sungainya terutama tidak terlalu friendly,” bebernya.
Kegiatan ini penting karena berkaitan dengan penilaian akhir dari kandidat penerima Adipura. Balikpapan termasuk kota yang memiliki nilai lebih dari 75. Bersama Surabaya, Ciamis, dan Bontang.
“Apakah Balikpapan masih bisa mendapat adipura atau turun menjadi kota bersertifikat,” tuturnya. Artinya kesempatan Balikpapan untuk bisa kembali meraih predikat kota bersih dipertaruhkan.
Selanjutnya akan ada penilaian akhir usai kunjungan. Hanif menuturkan, ada satu kampung yang relatif sudah melaksanakan penanganan sampah dengan baik yaitu Kampung Bungas.
Namun sayang sebagian besar wilayah lainnya masih jauh dari penanganan sampah yang baik. “Jadi belum ada pemilahan sampah dan sampah di lingkungan masih belum terkelola,” bebernya.
“Hal-hal ini mungkin akan mengoreksi angka-angka yang sebelumnya diberikan oleh tim,” sebutnya. Jika tidak meraih Adipura, maka ada predikat kota bersertifikat yang diberikan kepada 29 kabupaten/kota.
Sedangkan sisanya lebih dari 400 kabupaten/kota termasuk predikat kota kotor. “Kita benar-benar dalam posisi darurat sampah. Sehingga presiden memang memulai gerakan Indonesia Asri,” tutupnya.
Editor : Muhammad Ridhuan