BALIKPAPAN - Demi mewujudkan renovasi besar, Pemkot Balikpapan resmi menyambangi Kementerian Perdagangan. Upaya ini dilakukan agar proyek revitalisasi Pasar Inpres Kebun Sayur bisa segera terealisasi lewat kucuran dana APBN 2027.
Keterbatasan anggaran akibat pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD) membuat Pemkot Balikpapan memutar otak. Berbagai cara harus dilakukan untuk memperjuangkan pembangunan infrastruktur.
Teranyar bertandang ke Kementerian Perdagangan untuk menyampaikan usulan revitalisasi Pasar Inpres Kebun Sayur dan Pasar Penampungan A. Harapannya kedua proyek ini bisa masuk dalam APBN 2027.
“Ini bentuk ikhtiar dan upaya, kami berharap ada bantuan keuangan dari provinsi maupun pemerintah pusat,” kata Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo. Sebab pembangunan Pasar Inpres terpaksa ditunda tahun ini.
Imbas kemampuan keuangan daerah yang terbatas. Sementara dokumen perencanaan sudah rampung seperti detail engineering design (DED). Tinggal menunggu ketersediaan dana agar proyek berjalan.
“Kami meminta Bappeda Litbang untuk menyiapkan proyek-proyek yang sudah memiliki DED lengkap,” imbuhnya. Selanjutnya mencari jalan mana proyek yang bisa menggunakan APBD Kota, APBD provinsi, dan APBN.
Upaya pemerintah mencari bantuan ini disambut positif Kementerian Perdagangan. Mereka meminta presentasi yang dilakukan oleh Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud dengan tim teknis pada Selasa (3/3/2026).
Baca Juga: Harga Beras SPHP di Balikpapan Dijual di Bawah HET, Jadi Solusi Hemat Menu Sahur dan Buka Puasa
Di antaranya Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perdagangan, BKAD, dan sebagainya. “Mudah-mudahan kita dapat bantuan APBN untuk bisa mulai pembangunan 2027,” ungkapnya.
Dia menyebutkan, revitalisasi Pasar Inpres Kebun Sayur ini membutuhkan estimasi anggaran sekitar Rp 100 miliar. “Konsepnya ada beberapa lantai. Selain berjualan, ada arena bermain, ekraf, dan kuliner,” tuturnya.
Bagus memastikan dalam perencanaan dan penyusunan DED sudah menampung saran dari pedagang. Termasuk soal penampungan sementara yang dibutuhkan selama proses pembangunan. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki