BALIKPAPAN - Menghadapi prediksi puncak kemarau pada Juni mendatang, PTMB tidak tinggal diam. Sejumlah strategi mulai dari pemanfaatan tiga Bendali hingga pengajuan izin memanfaatkan Bendungan Wain untuk menutupi defisit air baku.
Kalimantan bersiap menghadapi musim kemarau. Meski tahun ini diprediksi El Nino tidak separah seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun tetap saja akan berpengaruh pada ketersediaan air.
Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) sudah melakukan antisipasi. Usai berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV Samarinda. Kemungkinan dilakukan penurunan produksi jika terjadi El Nino.
“Kemungkinan besar Balikpapan hanya mampu produksi air 75 persen,” kata Dirut PTMB Yudhi Saharuddin. Saat ini, kota-kota lain seperti di Jawa sudah masuk masa kemarau.
Sementara di Kaltim, BMKG memprediksi puncak kemarau terjadi sekitar Juni. Artinya Balikpapan atau Kalimantan Timur masih ada air hujan, hanya tidak sering seperti biasanya. “Karena kita waduk tadah hujan, kapasitas yang terisi hanya 50 persen saat kemarau,” tuturnya.
Sementara PTMB memungkinkan produksi air sekitar 75 persen. Pihaknya harus mencari sumber air baku lagi sebesar 25 persen untuk menutupi kekurangan air dari waduk. Ada beberapa alternatif yang sudah disiapkan dari koordinasi bersama BWS Kalimantan IV.
“Pertama pemanfaatan bendali, rencana ada tiga bendali yang akan digunakan,” tuturnya. Kemudian Bendungan Wain yang ditangani oleh Kementerian Kehutanan. PTMB akan mengajukan izin untuk mengelola air tersebut.
“Kami olah seperti IPA mini. Jadi menyiapkan tangki yang cukup banyak dan berkoordinasi dengan seluruh camat,” ungkapnya. Ini antisipasi jika El Nino melanda dan Balikpapan kekurangan air.
“Kita kirim air ke pelanggan dan memanfaatkan kantong-kantong air,” imbuhnya. Yudhi meyakini, seharusnya dengan skema produksi 75 persen, stok ketersediaan air bisa bertahan sampai akhir Tahun 2026.
“Namun dengan catatan kemarau tidak terus berlanjut hingga awal 2027,” tuturnya.
Baca Juga: Januari hingga April Ini Sudah 19 Kasus Kebakaran di Kabupaten Paser
Mengingat prediksi BMKG, kemarau di Kaltim akan berlangsung sampai Oktober. “Kami juga akan mulai sosialisasi kepada masyarakat agar lebih bijak dan hemat menggunakan air,” tutupnya. (*)
Editor : Sukri Sikki