BALIKPAPAN - Angka yang cukup mengejutkan sekitar 15 hingga 20 persen siswa sekolah ternyata mengalami masalah pendengaran akibat hal yang dianggap sepele. Itu menjadi perhatian serius dalam peringatan Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day).
Pemkot Balikpapan mendukung kegiatan bagi siswa. Asisten III Setdakot Balikpapan Andi Sri Juliarty hadir dalam acara yang berlangsung di SMP 27 Balikpapan, Kamis (9/4).
Dia mengatakan, kesehatan adalah modal utama pembangunan daerah. Termasuk kesehatan pendengaran yang punya peran vital. Namun masih sering terabaikan.
Menurutnya investasi pada kesehatan memang tidak berwujud. Namun bisa terlihat dalam kesehatan anak. “Seperti anak bisa lebih konsentrasi belajar karena pendengaran tidak terganggu,” tuturnya.
Pemerintah menyadari pendengaran adalah pondasi utama dalam proses belajar mengajar. Sebab siswa yang mengalami gangguan pendengaran, meski ringan, tetap akan sulit menangkap materi pelajaran.
“Berujung pada penurunan prestasi akademik dan menghambat interaksi sosial,” ucapnya. Dia menjelaskan, tantangan kesehatan pendengaran anak cukup nyata.
Mulai dari masalah sederhana seperti kotoran telinga yang menyumbat dialami sekitar 15-20 persen anak sekolah. Kemudian ancaman yang ada di era digital berupa gangguan pendengaran.
“Akibat kebisingan penggunaan earphone yang tidak terkontrol,” sebutnya. Ini kerap dialami oleh siswa sekolah. Pihaknya memberi dukungan terhadap Perhati-KL untuk menyelenggarakan kegiatan skrining.
Dia berharap skrining tidak hanya menyentuh siswa di beberapa sekolah. Namun bisa berlanjut ke sekolah lain. “Pemeriksaan ini aman karena bersifat non-invasif, tidak ada jarum suntik atau obat-obatan,” sebutnya.
Dia meyakini dengan teknologi digital, skrining pendengaran bisa lebih cepat dan akurat. Demi investasi kesehatan sumber daya manusia di Balikpapan. (*)
Editor : Ismet Rifani