KALTIMPOST.ID-Semangat emansipasi perempuan pada era modern kian meluas, tidak hanya di sektor pendidikan dan politik, tetapi juga merambah hingga pengembangan ekonomi desa.
Hal itu tercermin dari kiprah Mariana, spesialis pengembangan wisata berbasis komunitas sekaligus CEO GSA Grup Indonesia, yang mendorong pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan.
Pada usia yang relatif muda, Mariana menilai potensi desa bisa dioptimalkan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat.
Ia menekankan bahwa pembangunan pariwisata tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh aspek sumber daya manusia.
“Saya ingin membuktikan desa bisa maju lewat pariwisata jika manusianya dibangun. Semangat warga untuk berdaya menjadi kunci utama,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat lokal menjadi fondasi penting dalam menciptakan pariwisata berkelanjutan.
Baca Juga: Wartawan 60 Tahun ke Atas
Ketika warga memiliki rasa memiliki, keterampilan, serta kepercayaan diri, maka pengelolaan destinasi akan tumbuh secara organik dan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Momentum Hari Kartini menjadi refleksi bagi Mariana terhadap makna emansipasi perempuan saat ini. Ia memandang, perempuan tidak lagi sebatas memperjuangkan akses pendidikan formal, tetapi juga keberanian mengambil peran strategis dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Dalam menjalankan bisnis, Mariana mengakui tantangan terbesar terletak pada upaya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, di tengah derasnya arus informasi.
Untuk itu, ia mengandalkan sistem kerja berbasis teknologi yang memungkinkan operasional tetap berjalan meski tidak selalu berada di lapangan.
Ia berharap semakin banyak perempuan di berbagai daerah berani mengambil peran sebagai penggerak ekonomi lokal. Menurutnya, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar bagi kemandirian masyarakat. (pus/rd)
Editor : Romdani.