Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Urban Farming Kariangau Balikpapan Berkembang, Kelompok Tani Cabe Ceria Jadi Model Ekonomi Mikro Berbasis Komunitas dengan Dukungan CSR KKT

Ulil Mu'Awanah • Kamis, 30 April 2026 | 20:06 WIB
Enriany Muis bersama anggota Kelompok Tani Cabe Ceria di kebun. (FOTO ULIL/KP)
Enriany Muis bersama anggota Kelompok Tani Cabe Ceria di kebun. (FOTO ULIL/KP)

KALTIMPOST.ID-Di sudut RT 12 Kelurahan Kariangau, Balikpapan, sebidang lahan berukuran 50 x 63 meter perlahan berubah wajah. Dari sekadar ruang tanam sederhana, kini tumbuh menjadi pusat aktivitas warga.

Barisan bedeng tertata, ritme kerja semakin terorganisasi, dan hasil panen tak lagi berhenti di dapur sendiri, melainkan mulai mengalir ke pasar luar sebagai sumber penghidupan baru.

Lahan tersebut juga bukan sekadar menjadi ruang tanam, tetapi menjadi laboratorium ekonomi mikro berbasis komunitas. Kelompok Tani Cabe Ceria, yang terdiri dari 19 warga, yang mengelola lahan tersebut dengan pendekatan sederhana namun terstruktur. Yakni pembagian bedeng, rotasi tanaman, dan distribusi hasil yang tidak lagi berhenti di konsumsi internal.

“Perubahan ini mulai terlihat dari ritme aktivitas warga. Intensitas berkumpul meningkat, pola kerja lebih terorganisir, dan hasil panen kini mulai diarahkan ke pasar luar wilayah. Dalam konteks ekonomi lokal, ini bukan sekadar urban farming, melainkan embrio rantai pasok skala kecil yang tumbuh dari bawah,” jelas Direktur Utama PT Kaltim Kariangau Terminal (KKT) Enriany Muis.

Masuknya dukungan dari PT KKT melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) mempercepat transformasi tersebut. Bantuan berupa 150 bibit tanaman hortikultura dan 45 karung pupuk bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memberi sinyal bahwa model ini layak dikembangkan.

Baca Juga: BOSF Minta Samboja Lestari Tetap Jadi Hutan Konservasi, Tolak Wacana Lumbung Pangan demi Selamatkan Orangutan Kaltim

Enriany menegaskan intervensi perusahaan tidak berhenti pada bantuan awal. “Program TJSL ini kami fokuskan pada masyarakat di sekitar wilayah operasional PT KKT. Kami melihat langsung bagaimana warga memiliki semangat untuk mengelola lahan dan meningkatkan kesejahteraan. Kami ingin hadir untuk memperkuat upaya tersebut agar hasilnya lebih optimal dan berkelanjutan,” ujar Enriany.

Yang menarik, dampak paling nyata justru terlihat pada perubahan orientasi warga. Jika sebelumnya hasil panen bersifat subsisten, kini mulai diarahkan sebagai sumber pendapatan tambahan. Itu membuka peluang bagi terbentuknya ekosistem ekonomi berbasis komunitas yang lebih resilien terhadap fluktuasi harga pangan.

Dengan dukungan infrastruktur seperti tandon air, pompa, dan paranet, kelompok tani kini memiliki fondasi untuk meningkatkan skala produksi. Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka bisa menanam, tetapi sejauh mana model ini bisa direplikasi di wilayah lain.

Sekretaris Kelompok Tani Cabe Ceria Sri Hartati menyebut tantangan berikutnya bukan lagi pada produksi, melainkan distribusi dan konsistensi hasil.

“Kami berharap pendampingan dan bantuan seperti ini bisa terus berlanjut. Kami ingin kelompok tani ini berkembang, hasil panen meningkat, dan bisa memberi manfaat lebih luas untuk warga sekitar,” ujarnya. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #KKT Kariangau #ibu kota nusantara #Wali Kota Balikpapan Rahmad Masud #Kutai Barat