KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pesatnya perkembangan media sosial (medsos) di Indonesia, khususnya di Kaltim, menjadi perhatian serius aparat penegak hukum.
Kapolda Kaltim, Irjen Pol Endar Priantoro, menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan platform digital secara bijak dan bertanggung jawab.
Ini ditegaskan dalam Forum Group Discussion (FGD) Studi Kepolisian bertema “Quo Vadis Media Sosial sebagai Langkah Strategis Merespons Tantangan Kamtibmas di Era Digital” kerja sama dengan Universitas Balikpapan (Uniba).
Dalam forum yang menghadirkan akademisi, tokoh masyarakat, insan pers, hingga influencer. Kapolda menyoroti maraknya konten negatif yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
“Banyak konten melanggar aturan dan menimbulkan kegaduhan. Saya sampai berpikir, apakah mereka tidak takut karma. Saya yakin hukum sebab-akibat itu masih berlaku,” ujar Endar, didampingi Wakapolda Brigjen Pol Adrianto Jossy Kusumo.
Menurutnya hukum karma merupakan prinsip universal bahwa setiap perbuatan—baik pikiran, ucapan, maupun tindakan—akan membawa konsekuensi. Konten positif akan berdampak baik, sementara konten negatif berpotensi merugikan diri sendiri maupun masyarakat luas.
Tak hanya menyoroti aspek moral, kapolda juga menegaskan adanya konsekuensi hukum yang nyata. Meski pendekatan preventif masih dikedepankan, pihak kepolisian tidak akan ragu mengambil tindakan tegas jika pelanggaran dinilai serius.
“Kalau sudah keterlaluan, tentu akan kami proses sesuai hukum yang berlaku, termasuk ancaman hukuman penjara,” tegasnya.
Baca Juga: Menagih Janji PI Menteri Bahlil di Kaltim, Kukar Berhak dapat Porsi
Tingginya penetrasi penggunaan media sosial di kalangan generasi Z belum diimbangi dengan kualitas konten yang positif. “Konten negatif justru lebih menarik perhatian dibandingkan konten edukatif. Ini menjadi tantangan bersama,” ungkapnya.
Sebagai langkah strategis, Polda Kaltim mengedepankan sistem early warning system untuk memantau tren isu di media sosial. Pendekatan ini bertujuan mendeteksi potensi gangguan kamtibmas sejak dini sebelum berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas.
Selain itu, peran tokoh masyarakat, influencer, serta komunitas digital dinilai sangat penting dalam menyebarkan narasi positif dan menangkal disinformasi. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo