KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Menjadi pembawa acara sering kali dipandang sebagai profesi yang penuh kemudahan. Namun, bagi Reval Zulfi Sulistyo, profesi ini justru sarat tekanan dan tuntutan tinggi, terutama dalam acara formal pemerintahan.
Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya berbicara di depan publik, tetapi menjaga ketepatan dan fokus di tengah dinamika acara yang kerap berubah.
“Perubahan rundown itu sering terjadi. Tiba-tiba ada tambahan acara atau tamu yang tidak terjadwal. Kalau kita tidak fokus, bisa fatal,” kata Reval.
Kesalahan kecil bisa berdampak besar. Penyebutan nama, gelar, hingga urutan acara harus tepat. Dalam forum resmi, kekeliruan tersebut bukan hanya memalukan, tetapi juga dapat memengaruhi citra acara secara keseluruhan.
Selain itu, tuntutan untuk selalu tampil prima juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagai seorang performer, ia harus menjaga penampilan, energi, dan kualitas suara. “Kita harus selalu tampil clean, rapi, dan menarik. Itu bagian dari profesionalitas,” tuturnya.
Tak hanya itu, ia juga harus terus memperbarui pengetahuan. Setiap acara menuntut pemahaman baru, baik terkait tema, tamu undangan, maupun konteks kegiatan.
Namun di balik semua tekanan tersebut, Reval justru menemukan nilai lebih dari profesinya. Ia merasa setiap tantangan menjadi ruang pembelajaran yang memperkaya pengalaman dan kapasitas dirinya. “Setiap acara itu menambah wawasan kita. Kita belajar banyak hal dari materi yang kita bawakan,” ujarnya.
Dengan segala dinamika tersebut, ia menegaskan bahwa profesi MC bukan sekadar pekerjaan, melainkan tanggung jawab besar yang membutuhkan dedikasi dan kesiapan penuh. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo