BALIKPAPAN – Program inovatif Rumah Magot di wilayah Kecamatan Balikpapan Kota kini memasuki tahapan produksi. Salah satunya adalah unit yang berlokasi di Kelurahan Klandasan Ilir, mengubah sampah organik menjadi komoditas ekonomi bernilai jual.
Magot, yang tak lain adalah larva (belatung) dari lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens, memang tengah populer akhir-akhir ini. Selain kemampuannya yang luar biasa dalam mengurai sampah organik, magot juga merupakan sumber protein hewani yang sangat baik untuk pakan ternak, terutama ikan dan unggas.
Lurah Klandasan Ilir, Andi Arief Hidayatullah menjelaskan bahwa budidaya magot memiliki siklus panen yang terbilang singkat, hanya sekitar satu hingga dua minggu.
"Waktu panen itu siklusnya seminggu bisa dua minggu. Harus segera dipanen karena kalau kelamaan, magotnya bisa berubah menjadi lalat lagi," ungkap Andi Arief, Kamis (4/6/2026) diruang kerjanya.
Baca Juga: Balikpapan Mau Bangun Sekolah Rakyat hingga Pasar Induk dari Bankeu, Ini Syarat Mutlak Soal Lahan!
Saat ini, Rumah Magot di Klandasan Ilir bisa memproduksi sekitar 10 kilogram magot basah dalam satu kali siklus panen. Penjualannya masih dalam skala kecil, namun sudah bergerak dengan harga Rp 20.000 per kilogram untuk magot basah.
Sementara untuk magot yang dikeringkan, harganya mencapai Rp 25.000 per kilogram. "Pemasarannya saat ini masih di lingkungan warga sekitar. Ke depan, kami berusaha agar produksi magot ini harganya bisa benar-benar bersaing dengan pakan ternak pabrikan," tambahnya.
Keberadaan Rumah Magot ini bukan hanya sekadar tempat produksi belatung. Lebih dari itu, program ini menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di tingkat kelurahan. Fasilitas ini turut mengelola sampah organik dan anorganik, bahkan telah dilengkapi dengan alat pencacah sampah.
Kegiatan ini merupakan langkah dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus menjadi motor pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Andi Arief menegaskan bahwa Rumah Magot yang tersebar di setiap kelurahan di Kecamatan Balikpapan Kota ini menjadi sumber pendapatan baru bagi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang dikelola sepenuhnya oleh warga.
"Selain sebagai sumber pendapatan, program ini sangat berpengaruh dalam pengurangan volume sampah, baik organik maupun anorganik. Karena sampah tidak langsung dibuang ke TPA, tetapi diolah dulu di Rumah Magot, fungsinya seperti bank sampah," pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki