KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Balai Layanan Kesehatan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Balikpapan terus menjadi tumpuan bagi orang tua yang membutuhkan layanan terapi terjangkau. Sejak resmi berdiri pada 2020 hingga menjadi UPTD pada 2021.
Sebagai satu-satunya unit pelaksana teknis daerah (UPTD) serupa di Indonesia, lembaga ini menawarkan berbagai fasilitas seperti okupasi terapi hingga psikologi klinis dengan biaya yang jauh lebih kompetitif dibanding klinik swasta.
Kepala Tata Usaha Balai Layanan Kesehatan ABK Norma menjelaskan, saat ini terdapat beberapa layanan terapi. Di antaranya okupasi terapi, fisioterapi, behaviour terapi, psikologi klinis, dan terapi wicara.
Namun untuk terapi wicara sementara masih kosong dan mencari tenaga ahli. "Ini satu-satunya di Indonesia yang terdapat Balai Layanan Kesehatan ABK," ucapnya.
Baca Juga: Mentan Periksa 300 Perusahaan Sawit Diduga Mainkan Harga TBS, Satgas Pangan Turun Tangan
Dia menjelaskan, rata-rata pasien datang secara mandiri bersama orang tua. Sebab UPTD belum menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan. "Biasanya pasien yang datang karena infomrasi tersebar dari mulut ke mulut. Kalau di sini ada terapi untuk anak berkebutuhan khusus," ungkapnya.
Bagi mereka yang ingin mendapatkan layanan juga sangat mudah. Cukup daftar hanya membawa KTP dan KK. "Prosesnya sama seperti di puskesmas," sebutnya.
Setiap pasien yang datang akan menjalani assemen. Kemudian pasien diarahkan lagi sesuai dengan kebutuhan terapi. Artinya ada diagnosa bagi pasien.
Norma menuturkan, layanan terapi memang masih berbayar. Namun jika dibandingkan dengan rumah sakit atau klinik termasuk biaya yang paling murah.
Baca Juga: Operasi Patuh Mahakam 2026 Dimulai, Ini 9 Pelanggaran yang Jadi Sasaran Polisi
Tidak hanya terapi, begitu pula untuk tes IQ dan lainnya. "Setiap terapi biaya Rp96 ribu. Sedangkan di luar rata-rata sudah lebih dari Rp100 ribu," imbuhnya.
Itu pun penerapan tarif baru saja naik karena mengikuti peraturan daerah. Sebelumnya tarif terapi hanya Rp40 ribu dan baru naik menjadi Rp96 ribu. Selama Mei 2026, pihaknya mencatat total kunjungan mencapai 611 orang. "Ada berbagai macam diagnosa seperti autis, hiperaktif, dan sebagainya," ujarnya.
Saat ini memang kami terkendala dari jumlah SDM. Khususnya seperti terapi wicara masih kosong. Pihaknya ingin bekerja sama dengan universitas di Surakarta.
"Kami biasanya memang ada kerja sama dengan universitas, termasuk mereka yang menjalani magang," tutupnya. Kini total terapis yang tersedia sebanyak 15 orang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo