BALIKPAPAN – Kunjungan yang dilakukan oleh Menteri Transmigrasi RI M. Iftitah Sulaiman Suryanagara beberapa waktu lalu, memberi sinyal positif bagi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Pasalnya, ini memberi titik terang bagi permasalahan yang dihadapi yayasan pengelola lahan konservasi di Samboja Lestari itu.
Manajer Program Regional Kalimantan Timur BOSF, Aldrianto Priadjati menjelaskan, ada sekitar 1.800 hektare lahan di kawasan tersebut yang dulunya tandus penuh alang-alang dibah menjadi hutan kembali selama 20 tahun. Dengan lebih dari 473 jenis pohon yang berbeda, di mana 40 persen adalah buah-buahan untuk satwa-satwa yang ada di sekitar kita ini
“Tapi upaya inilah yang menemui beberapa kendala. Salah satunya adalah okupasi yang juga sudah dicek langsung oleh Bapak Menteri. Ini yang akan kami coba kerjasamakan dengan Kementerian Transmigrasi untuk mendapatkan solusi yang terbaik bagi hutan,” jelasnya.
Dia menambahkan, hutan ini adalah warisan berharga yang bisa diturunkan ke anak cucu. Makanya, mereka ingin mempertahankan Samboja Lestari sebagai rimba kota yang sudah ditetapkan juga sebagai kawasan lindung oleh Ibu Kota Nusantara (IKN).
Amanah ini, lanjutnya, yang juga akan dijaga agar dapat melindungi orangutan dan beruang madu. Serta satwa liar lainnya, supaya bisa menjadi rumah bagi mereka, sekaligus hidup berdampingan dengan masyarakat sekitar.
Aldri menilai, tanpa kerja sama dengan masyarakat lokal, pihaknya juga akan kesulitan. Untuk itu, hampir 90 persen karyawan di Samboja Lestari adalah warga lokal. Yang merupakan warga dari sekitar kecamatan Samboja Barat dan Samboja, serta didukung personel dari Polsek dan Koramil yang ada di sekitar.
“Jadi kami bergandengan tangan karena Yayasan BOS memang tidak bisa berdiri sendiri, atau mengupayakan semuanya dengan sendirian. Akan lebih baik kalau kami bergandengan tangan dan bekerja bersama,” tutupnya. (*)
Editor : Ismet Rifani