KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Minat generasi muda terhadap sastra dinilai masih perlu mendapat perhatian serius. Kondisi itu terlihat dari tingkat kehadiran peserta dalam kegiatan Pemuda Gebrak Seni yang digelar di Aula Disporapar Balikpapan.
Akademisi sastra Ari Musdolifah mengatakan, jumlah peserta yang hadir saat kegiatan berlangsung tidak sebanyak yang diperkirakan. Padahal, kuota pendaftaran sebelumnya telah terpenuhi hingga akhirnya ditutup pada angka sekitar 60 peserta.
“Kalau melihat yang datang hari ini, menurut saya antusiasme terhadap sastra masih kurang. Padahal sebelumnya saya dengar kuotanya sudah penuh,” ujarnya.
Meski demikian, Ari menilai minat terhadap sastra sebenarnya masih dapat ditemukan di lingkungan sekolah. Berbagai kegiatan seperti lomba puisi, membaca karya sastra, hingga debat masih rutin digelar, terutama saat peringatan Bulan Bahasa.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan generasi muda terhadap sastra belum sepenuhnya hilang. Namun, mereka membutuhkan lebih banyak ruang untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas.
Karena itu, keberadaan komunitas sastra maupun teater dinilai sangat penting. Selain menjadi wadah berekspresi, komunitas juga dapat membantu generasi muda mengasah kemampuan berkarya dan memperluas wawasan.
“Komunitas sastra perlu terus dikembangkan karena menjadi tempat bagi generasi muda untuk berkarya, baik melalui puisi, teater, maupun bentuk sastra lainnya,” katanya.
Ari juga mengapresiasi sejumlah komunitas sastra di Balikpapan yang hingga kini masih aktif berkegiatan. Menurutnya, komunitas tersebut perlu mendapat dukungan agar ekosistem sastra tetap tumbuh dan berkembang.
Di sisi lain, perkembangan teknologi menjadi tantangan baru bagi dunia sastra. Ari menilai penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara berlebihan berpotensi mengurangi kreativitas generasi muda dalam menghasilkan karya.
Baca Juga: Bareskrim Tahan Eks Pejabat OJK, Diduga Dalang Proyek Fiktif PT Dana Syariah Indonesia
“Ketika diminta membuat puisi, banyak yang langsung mencari bantuan AI. Padahal karya sastra seharusnya lahir dari imajinasi dan kreativitas penulisnya sendiri,” tuturnya.
Ia berharap generasi muda yang memiliki ketertarikan pada dunia sastra tidak hanya belajar secara mandiri, tetapi juga aktif bergabung dalam komunitas. Dengan begitu, mereka dapat bertukar ide, memperluas perspektif, sekaligus meningkatkan kualitas karya yang dihasilkan. (*)
Editor : Ery Supriyadi