Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Preeklamsia Masih Jadi Ancaman bagi Ibu Hamil dan Janin, RSIA Sayang Ibu Balikpapan Tekankan Deteksi Dini lewat ANC

Romdani. • Selasa, 23 Juni 2026 | 06:14 WIB
Talk show Radio KPFM Balikpapan yang menghadirkan dr Aspian Noor A, SpOG dan dr Isabella.
Talk show Radio KPFM Balikpapan yang menghadirkan dr Aspian Noor A, SpOG dan dr Isabella.

KALTIMPOST.ID-Preeklamsia masih menjadi salah satu komplikasi kehamilan yang paling diwaspadai karena berpotensi mengancam keselamatan ibu maupun janin.

Karena itu, deteksi dini melalui skrining sejak awal kehamilan dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.

Pentingnya kewaspadaan terhadap preeklamsia mengemuka dalam talk show yang digelar RSIA Sayang Ibu Balikpapan bersama Radio KPFM Balikpapan, Senin (22/6).

Kegiatan tersebut menghadirkan dokter spesialis obstetri dan ginekologi RSIA Sayang Ibu Balikpapan dr Aspian Noor A, SpOG, serta Humas RSIA Sayang Ibu Balikpapan dr Isabella.

Dalam paparannya, Aspian menjelaskan preeklamsia merupakan kondisi hipertensi yang terjadi pada kehamilan dan baru dapat ditegakkan diagnosisnya setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu atau lebih.

Baca Juga: Listrik Padam, Sejumlah Wilayah di Balikpapan dan Samarinda Gelap Gulita, PLN Masih Telusuri Penyebabnya

Kondisi tersebut ditandai dengan peningkatan tekanan darah yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi jika tidak ditangani dengan baik.

“Preeklamsia adalah kondisi hipertensi pada kehamilan yang bisa mengancam keselamatan ibu dan anak. Secara praktis, kriteria yang paling mudah digunakan untuk menegakkan diagnosis adalah tekanan darah 140 per 90 mmHg atau lebih setelah usia kehamilan 20 minggu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, secara klasik preeklamsia dikenal melalui tiga tanda utama, yakni hipertensi, proteinuria atau kebocoran protein dalam urin, serta edema atau pembengkakan tubuh.

Namun dalam perkembangan praktik medis saat ini, fokus diagnosis lebih diarahkan pada peningkatan tekanan darah agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Menurutnya, hingga kini penyebab pasti preeklamsia masih belum diketahui secara pasti. Karena itu, seluruh ibu hamil pada dasarnya memiliki risiko mengalami kondisi tersebut.

Meski demikian, risiko akan meningkat pada ibu yang memiliki riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya, keluarga dengan riwayat hipertensi atau penyakit ginjal, kehamilan kembar, hingga kehamilan melalui teknologi reproduksi berbantu seperti bayi tabung.

“Sampai hari ini penyebab pasti preeklamsia belum bisa ditegakkan secara mutlak. Inilah mengapa skrining pada awal kehamilan menjadi sangat penting,” kata Aspian.

Baca Juga: IEE Series Balikpapan 2026 Perdana Digelar di Luar Jawa,  Hadirkan 100 Perusahaan dan 200 Merek dari 10 Negara, Didukung Pembangunan IKN

Preeklamsia tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu tumbuh kembang janin akibat berkurangnya aliran darah ke plasenta. Akibatnya, pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan janin menjadi tidak optimal.

“Sering pada preeklamsia yang tidak terkontrol, janin mengalami gangguan pertumbuhan atau IUGR (Intrauterine Growth Restriction). Jadi bukan hanya ibunya yang berisiko, tetapi bayi juga dapat terdampak,” jelasnya.

Dalam kasus tertentu, apabila preeklamsia berkembang menjadi kondisi berat dan membahayakan keselamatan ibu, tenaga medis dapat mempertimbangkan terminasi kehamilan sebagai langkah penyelamatan.

Namun bila tekanan darah masih dapat dikendalikan dan kondisi ibu serta janin stabil, kehamilan tetap dapat dipertahankan dengan pemantauan ketat.

“Ketika preeklamsia sudah mengancam keselamatan ibu, maka mengakhiri kehamilan menjadi pilihan medis yang harus dipertimbangkan. Tetapi jika kondisinya masih stabil, kehamilan bisa dipertahankan hingga usia yang lebih aman,” ujarnya.

Sementara itu, dr Isabella mengatakan RSIA Sayang Ibu Balikpapan terus mendorong ibu hamil untuk menjalani pemeriksaan antenatal care (ANC) secara rutin.

Melalui pemeriksaan tersebut, tenaga kesehatan dapat melakukan skrining terhadap berbagai faktor risiko, termasuk memantau tekanan darah sejak trimester awal kehamilan.

“Setiap ibu hamil memiliki jadwal ANC. Di situlah dilakukan skrining dan pemantauan kondisi kehamilan. Jika ditemukan faktor risiko, maka dapat segera dilakukan tindak lanjut,” katanya.

Baca Juga: Hyatt Place Semarang Hadir di POJ City, Siapkan 154 Kamar dan Lengkapi Ekosistem Bisnis hingga Hospitality

Menurutnya, salah satu tantangan yang masih sering ditemui adalah rendahnya kepatuhan sebagian ibu hamil untuk menjalani kontrol secara berkala, terutama ketika tidak merasakan keluhan tertentu. Padahal, preeklamsia kerap berkembang tanpa gejala yang disadari pada tahap awal.

Karena itu, RSIA Sayang Ibu terus mengintensifkan edukasi kesehatan kepada pasien, baik melalui konsultasi langsung maupun promosi kesehatan di lingkungan rumah sakit.

Edukasi tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran bahwa pemeriksaan kehamilan secara rutin merupakan investasi penting bagi keselamatan ibu dan bayi.

Baik dr Aspian maupun dr Isabella sepakat bahwa pencegahan komplikasi preeklamsia sangat bergantung pada deteksi dini.

Dengan skrining yang tepat, pemantauan tekanan darah yang rutin, serta kepatuhan menjalani kontrol kehamilan, risiko komplikasi yang mengancam ibu dan janin dapat ditekan semaksimal mungkin. (kpg/rd)

Editor : Romdani.
#RSIA Sayang Ibu Balikpapan #kutao barat #deteksi dini #skrining kesehatan #ibu hamil