KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Puncak kemarau di Kalimantan diprediksi bakal melanda hingga Oktober 2026. Mengantisipasi umur Waduk Manggar dan Waduk Teritip yang kian pendek, PTMB mengimbau warga Balikpapan untuk mulai membatasi penggunaan air bersih secara ketat dan menyarankan strategi alternatif demi bertahan selama musim kering.
Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mengajak warga Kota Minyak lebih bijak menggunakan air bersih. Ini sebagai antisipasi kemarau yang bakal melanda lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Curi Motor di Sangkulirang, Pria Ini Dibekuk di Balikpapan
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Balikpapan akan mengalami puncak musim kemarau selama Agustus sampai Oktober 2026. Artinya lebih panjang dari biasanya.
“Berkaca kondisi di Jawa yang sudah tidak mengalami hujan sejak April. Sedangkan untuk Kalimantan, puncak kemarau diprediksi terjadi pada Oktober 2026,” kata Direktur Teknik PTMB Khoiruddin.
Sementara musim hujan diprediksi paling cepat baru terjadi di Balikpapan pada awal 2027. Dia menambahkan, saat ini ketersediaan air baku masih menjadi tantangan dan kendala.
Baca Juga: Belasan Tahun Terkatung-katung, 869 PNS Perumahan Korpri PPU Desak RDP ke DPRD
“Surat izin pengusahaan air (SIPA) Waduk Manggar 1.150 liter per detik dan Waduk Teritip 220 liter per detik,” ungkapnya. Terkait cukup atau tidak dalam memenuhi kebutuhan musim kemarau ditentukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV.
Mereka yang memiliki kewenangan atas waduk. “BWS akan mengeluarkan surat perintah berapa debit air yang bisa diambil untuk menjaga umur waduk lebihd panjang,” ujarnya.
Pihaknya mengimbau agar masyarakat bisa lebih bijak menggunakan air. Maksimal hanya untuk mandi, cuci, dan keperluan utama. Sedangkan untuk cuci mobil atau siram tanaman bisa menggunakan sumber air lain.
Baca Juga: Kutim Babak Belur Dihantam Kebijakan Pusat, Akademisi Soroti Ancaman Fiskal hingga PHK
“Perlu kesiapan bersama menghadapi kemarau agar kita punya ketersediaan stok air baku yang cukup,” sebutnya. Dia menyarankan, masyarakat bisa memulai kegiatan panen air hujan.
PTMB kembali menyarankan pengembang untuk membangun fasilitas ground water tank (GWT) di setiap unit rumah. Mengingat Balikpapan masih mengalami tantangan dalam ketersediaan air baku.
Maka dengan keberadaan GWT, setidaknya air yang ditampung bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada air dari PTMB.
“Termasuk untuk mengantisipasi kemarau, setiap rumah punya stok air. Jika lahan rumah mencukupi bisa menggunakan tandon. Apabila lahannya terbatas menggunakan ground tank,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A