KALTIMPOST.ID-Keberadaan angkutan kota (angkot) di Balikpapan kian terdesak di tengah pesatnya perkembangan transportasi berbasis aplikasi.
Selain persaingan dengan layanan transportasi online, perubahan pola mobilitas dan gaya hidup masyarakat juga dinilai menjadi faktor yang membuat angkot semakin kehilangan penumpang.
Kondisi tersebut dirasakan langsung para sopir angkot yang masih bertahan melayani masyarakat. Mereka mengaku kini harus menunggu hingga satu jam untuk mengumpulkan penumpang sebelum kendaraan dapat diberangkatkan.
Situasi itu sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika angkot menjadi salah satu moda transportasi utama warga Balikpapan.
Herman, salah seorang sopir angkot yang ditemui di kawasan Pelabuhan Semayang, Sabtu (18/7), mengatakan jumlah penumpang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, tidak jarang angkot harus menunggu lama di pangkalan sebelum kursi terisi.
“Kadang-kadang saja ada penumpang. Sekarang bisa menunggu sampai sejam baru jalan,” ujarnya.
Menurunnya jumlah penumpang berdampak langsung terhadap pendapatan para sopir. Herman menyebut penghasilan kotor yang diperoleh setiap hari berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu.
Namun, setelah dikurangi biaya operasional, terutama pembelian bahan bakar minyak (BBM), pendapatan bersih yang dibawa pulang hanya sekitar Rp 100 ribu per hari.
Menurut Herman, karakter penumpang angkot juga mengalami perubahan. Saat ini, pengguna angkot didominasi kalangan lanjut usia yang belum terbiasa menggunakan aplikasi transportasi online atau masyarakat yang membawa barang dalam jumlah banyak sehingga lebih memilih angkot.
“Kalau yang naik sekarang kebanyakan orang tua atau yang bawa barang banyak,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, Herman mengaku pernah mendapat tawaran untuk membeli BBM bersubsidi secara berulang menggunakan lebih dari satu barcode atau dikenal dengan istilah “ngetap”. Namun, ia memilih menolak karena tidak ingin berurusan dengan persoalan hukum.
“Ada yang ngajak, tapi saya enggak berani. Takut masalah hukum. Saya lebih baik isi BBM sesuai kebutuhan saja. Barcode saya juga tidak pernah terblokir karena dipakai normal,” tuturnya.
Ia menduga praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi masih terjadi dan menjadi salah satu penyebab antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, oknum pelaku menggunakan beberapa barcode untuk membeli pertalite secara berulang. Meski demikian, Herman menegaskan dirinya tidak pernah terlibat dalam aktivitas tersebut.
Hal senada disampaikan sopir angkot lainnya, Bakrie. Menurut dia, perubahan perilaku masyarakat turut memengaruhi keberlangsungan angkutan kota di Balikpapan.
Kini, banyak warga lebih memilih menggunakan transportasi online karena dinilai lebih praktis, cepat, dan dapat mengantar penumpang langsung ke lokasi tujuan.
“Kalau mau ke mal sekarang banyak yang lebih pilih transportasi online. Ada juga yang merasa gengsi kalau turun dari angkot,” ujarnya.
Bakrie juga menuturkan, angkot tidak lagi dapat mengangkut penumpang hingga kawasan bandara seperti beberapa tahun lalu. Kondisi tersebut semakin mempersempit pangsa pasar angkutan kota sehingga jumlah penumpang terus berkurang.
Ia memperkirakan sebagian besar pengguna angkot telah beralih ke layanan transportasi berbasis aplikasi. Akibatnya, sopir harus berkeliling lebih lama untuk mencari penumpang agar dapat memenuhi biaya operasional harian.
Meski menghadapi tantangan yang semakin berat, para sopir berharap angkot tetap menjadi bagian dari sistem transportasi perkotaan.
Mereka menilai angkutan kota masih dibutuhkan karena menawarkan tarif yang relatif terjangkau dan menjadi pilihan transportasi bagi sebagian masyarakat Balikpapan yang belum beralih ke layanan berbasis aplikasi. (rd)
Editor : Romdani.