BALIKPAPAN – Kondisi akses menuju Pelabuhan Kariangau kembali dikeluhkan warga. Jalan yang bergelombang, minimnya rambu penunjuk arah, serta penerangan yang kurang memadai dinilai masih menjadi persoalan yang belum mendapat penanganan menyeluruh, padahal pelabuhan tersebut merupakan salah satu gerbang utama penyeberangan di Balikpapan.
Pasangan suami istri yang berjualan di sekitar gerbang masuk pelabuhan, Ida dan Rafik, mengaku hampir setiap hari melihat pengendara kebingungan mencari lokasi Pelabuhan Kariangau, terutama mereka yang baru pertama kali melintas di kawasan tersebut.
Menurut Ida, sebagai pelabuhan yang melayani penyeberangan antar daerah dan antar pulau, seharusnya tersedia papan petunjuk yang jelas dan mudah terlihat sejak jauh sebelum memasuki kawasan pelabuhan.
"Harusnya dari sana pun sudah nampak, 'oh ini pelabuhan'. Orang yang baru lewat sini sering bingung karena enggak ada plang petunjuk," ujarnya, Kamis (23/7).
Baca Juga: Pelabuhan Kudungga Kutim Segera Dilelang, Operasional Ditargetkan Mulai Awal 2028
Ia mengatakan tidak sedikit pengendara yang terpaksa berhenti untuk menanyakan arah menuju pelabuhan karena minimnya informasi di sepanjang jalan.
"Kalau orang enggak pernah lewat sini, dia harus bertanya. Harusnya sudah ada petunjuk berapa meter lagi menuju pelabuhan penyeberangan," katanya.
Selain rambu, kondisi penerangan jalan juga menjadi perhatian. Menurut Ida, ketika lampu di kawasan pelabuhan padam, suasana menjadi sangat gelap sehingga membuat pengguna jalan merasa kurang aman.
"Kalau mati lampu gelap sekali, seperti gua. Siapa yang enggak takut masuk ke situ," ucapnya.
Sementara itu, Rafik menilai kondisi permukaan jalan yang bergelombang turut menjadi persoalan. Jalan yang tidak rata membuat sebagian pengendara memilih jalur yang dianggap lebih aman meski tidak sesuai dengan arus keluar-masuk kendaraan.
"Naik turunnya enggak beraturan. Orang akhirnya mencari jalan yang paling minim risiko," ujarnya.
Menurutnya, jalur keluar memang telah diberi penanda, namun kondisi jalan membuat pengendara kerap mengabaikannya.
"Keluar memang ada tandanya, tapi kadang enggak ngaruh karena melihat kondisi jalannya yang enggak memungkinkan," katanya.
Pasangan tersebut juga menilai perbaikan yang selama ini dilakukan hanya bersifat sementara. Jalan yang telah diperbaiki kembali mengalami kerusakan karena setiap hari dilintasi kendaraan bertonase besar yang keluar masuk kawasan pelabuhan.
Ida berharap konstruksi jalan disesuaikan dengan beban kendaraan yang melintas agar lebih tahan lama.
"Mobil yang lewat ini rata-rata muatannya di atas 10 ton. Harus dipikirkan kekuatan bahannya supaya enggak cepat rusak lagi," ujarnya.
Ia berharap pemerintah maupun pihak pengelola segera melakukan pembenahan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas jalan, pemasangan rambu penunjuk arah, hingga perbaikan penerangan, sehingga akses menuju Pelabuhan Kariangau menjadi lebih aman dan nyaman bagi masyarakat maupun pengguna jasa penyeberangan.