RSKD Perkuat Kompetensi Nakes melalui Workshop Manajemen Kegawatdaruratan dan Sistem Aktivasi Kode Biru

ADV • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 17:14 WIB

 

PRAKTIK: Salah satu materi yang dipraktikkan dalam workshop kegawatdaruratan di RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.
PRAKTIK: Salah satu materi yang dipraktikkan dalam workshop kegawatdaruratan di RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Komitmen dalam meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien, RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan melalui RSKD Learning Center menyelenggarakan Workshop Manajemen Kegawatdaruratan dan Sistem Aktivasi Kode Biru bagi Tenaga Kesehatan pada tanggal 25–26 Juli 2026 di Aula Sakura RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo.

Kegiatan diikuti 70 tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan. Sebanyak 24 peserta dari puskesmas/klinik di Balikpapan, Sangatta, dan Babulu. Lainnya merupakan tenaga kesehatan internal RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo.

Workshop ini dirancang dalam satu sesi selama dua hari yang memadukan pembelajaran teori, demonstrasi, serta simulasi praktik sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan tenaga kesehatan dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan.

Baca Juga: RSKD Balikpapan Latih Nakes Tingkatkan Deteksi Dini Kegawatdaruratan Ibu dan Bayi

Workshop dibuka Wakil Direktur SDM dan Pendidikan, Pelatihan, Penelitian RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo, Novita Retno Damayanti. Dia menegaskan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan merupakan amanat yang harus dilaksanakan secara berkelanjutan. Peningkatan kompetensi ini bukan lagi menjadi sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan yang tidak dapat ditawar.

“Sebagai rumah sakit rujukan di Kaltim, RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo memiliki amanah menjadi pengampu dalam pengembangan kompetensi tenaga kesehatan,” ujar Novita.

Disampaikan juga, RSKD Learning Center telah terakreditasi sebagai lembaga pelatihan tenaga kesehatan, sehingga berbagai program peningkatan kompetensi akan terus dilaksanakan secara berkesinambungan.

Khusus bagi tenaga kesehatan internal rumah sakit, pelatihan kegawatdaruratan akan menjadi program penyegaran (refreshment) secara rutin setiap tahun untuk memastikan kompetensi tetap terjaga sesuai standar pelayanan.

Baca Juga: Drg Ahmad Jais, yang Kini Definitif Menjadi Direktur RSKD, Siap Maksimalkan Fasilitas Modern dengan Memperkuat Layanan Jantung Rujukan Kaltim

Selama dua hari pelaksanaan, peserta memperoleh materi komprehensif meliputi Airway and Breathing, Basic Life Support (BLS) dan Manajemen Return of Spontaneous Circulation (ROSC), Neonatal Advanced Life Support (NALS/NRP), Pediatric Advanced Life Support (PALS), demonstrasi resusitasi neonatus, anak dan dewasa, penggunaan Automated External Defibrillator (AED)/defibrillator, hingga simulasi aktivasi Code Blue yang melibatkan kolaborasi multidisiplin.

Sebagai penanggung jawab Code Blue, dr Benny Indrajaya menjelaskan bahwa pemahaman mengenai sistem aktivasi Code Blue menjadi kompetensi yang sangat penting dimiliki tenaga kesehatan. Penanganan kegawatdaruratan di rumah sakit tidak hanya ditujukan bagi pasien dewasa, tetapi juga harus mampu mengakomodasi kondisi darurat pada bayi dan anak.

Selama ini Code Blue identik dengan penanganan henti jantung pada pasien dewasa. Namun di rumah sakit, kondisi kegawatdaruratan juga dapat terjadi pada bayi dan anak. “Sebab itu, dalam workshop ini kami mengintegrasikan konsep Code Blue dengan Code White, sehingga peserta memiliki pemahaman yang utuh mengenai tata laksana kegawatdaruratan pada seluruh kelompok usia,” jelasnya.

Ditambahkan lagi, sistem penanganan kegawatdaruratan terdiri dari dua tahapan utama. Tahap pertama adalah pengenalan dini terhadap kondisi pasien, yang dapat dilakukan oleh siapa saja, mulai dari tenaga nonmedis hingga tenaga kesehatan. Tahap kedua merupakan penanganan lanjutan oleh tim medis terlatih, termasuk tindakan resusitasi, stabilisasi pasien, hingga proses transportasi yang aman menuju unit pelayanan yang lebih lengkap seperti ruang intensif (ICU).

Workshop ini menghadirkan narasumber berkompeten dan berpengalaman di bidang kegawatdaruratan, yaitu dr. Syahyat Aryamehr, Sp.An., Subsp.T.I(K), dr. Benny Indrajaya, Sp.An-TI, dr. Daniel Susatyo Wirawan, Sp.A, dr. Tyas Rahmaditia, Sp.A, Ns. Yuliha Sarah, S.Kep., Ns. Ananta Primayoga, S.ST., serta Ns. Zahrotul Wardah, S.Kep., M.Kep.

Melalui workshop ini diharapkan seluruh peserta mampu meningkatkan kompetensi klinis, memperkuat kolaborasi antarprofesi, serta memahami mekanisme aktivasi Code Blue dan Code White secara cepat, tepat dan terkoordinasi.

Setelah memperoleh penguatan teori dan juga praktik pada hari pertama, peserta pada sesi hari kedua mengikuti pendalaman materi yang dipadukan dengan praktik simulasi lebih lanjut.

Kegiatan ini dirancang untuk memastikan seluruh tenaga kesehatan tidak hanya memahami konsep penanganan kegawatdaruratan, tetapi juga mampu menerapkan prosedur secara cepat, tepat dan terkoordinasi ketika menghadapi situasi nyata.

Sebagai bagian penting dari pembelajaran, peserta mengikuti simulasi aktivasi Kode Biru yang menggambarkan berbagai skenario kegawatdaruratan di rumah sakit. Dalam simulasi tersebut, peserta berlatih melakukan asesmen awal, mengaktifkan sistem, memberikan bantuan hidup dasar dan lanjutan, hingga melakukan koordinasi lintas profesi secara efektif. (*)

Editor : Duito Susanto
kode biru kode putih pelayanan kesehatan RSUD dr Kanudjoso Djatiwibowo tenaga kesehatan