Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, RSKD Balikpapan Gelar Workshop Nakes Puskesmas

Nuron Setya Wijaya • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 17:27 WIB
Workshop Deteksi Dini Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal yang digelar RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) bekerja sama dengan Dinkes Balikpapan. Kegiatan ini diikuti 40 tenaga kesehatan dari puskesmas guna meningkatkan kesiapsiagaan penanganan gawat darurat ibu hamil dan bayi baru lahir. (NURON/KALTIM POST
Workshop Deteksi Dini Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal yang digelar RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) bekerja sama dengan Dinkes Balikpapan. Kegiatan ini diikuti 40 tenaga kesehatan dari puskesmas guna meningkatkan kesiapsiagaan penanganan gawat darurat ibu hamil dan bayi baru lahir. (NURON/KALTIM POST

BALIKPAPAN – RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan memperkuat kompetensi tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama melalui Workshop Deteksi Dini Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal.

Kegiatan yang diikuti dokter, bidan, dan perawat dari puskesmas serta fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) itu diharapkan mampu meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam mengenali dan menangani kondisi kegawatdaruratan pada ibu hamil maupun bayi baru lahir.

Workshop yang digelar bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Balikpapan tersebut diikuti 40 peserta. Selain penyampaian materi, peserta juga mendapatkan pelatihan praktik penanganan kegawatdaruratan obstetri sehingga keterampilan yang diperoleh dapat langsung diterapkan saat memberikan pelayanan.

Ketua Panitia Workshop sekaligus Ketua Tim Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) RSKD, dr. Tedy Teguh Satriadi, Sp.OG, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan jejaring pelayanan kesehatan yang secara rutin dilakukan RSKD kepada fasilitas kesehatan di Balikpapan.

Baca Juga: Basecamp Wira Charity Teman Bertumbuh di Belakang Markas PMI Klandasan, Hidupkan Permainan Tradisional, Ajak Anak Lepas Gadget Sejenak

“Rumah sakit melakukan pembinaan kepada seluruh puskesmas dan rumah sakit jejaring agar pelayanan kesehatan ibu dan anak, mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan, dapat berjalan dengan koordinasi, sinergi, dan kolaborasi yang baik,” katanya.

Menurutnya, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor penting dalam menekan risiko kematian ibu dan bayi. Melalui workshop ini, peserta dilatih mengenali tanda bahaya kehamilan, kegawatdaruratan maternal dan neonatal, melakukan stabilisasi awal pasien, hingga memahami sistem rujukan yang tepat agar tidak terjadi keterlambatan penanganan.

“Tujuannya agar sejak di fasilitas kesehatan tingkat pertama tenaga kesehatan mampu mendeteksi kegawatdaruratan lebih dini, melakukan penanganan awal, dan apabila diperlukan segera merujuk pasien dengan sistem rujukan yang baik,” ujarnya.

Dr. Tedy menjelaskan penyebab kematian ibu masih didominasi oleh hipertensi dalam kehamilan atau preeklamsia, perdarahan, serta infeksi. Selain itu, penyakit penyerta seperti gangguan jantung, penyakit autoimun, dan penyakit metabolik juga dapat meningkatkan risiko apabila tidak dikenali sejak dini.

Baca Juga: Jangan Cuma Megah Gedungnya, Ketua Komisi III DPRD Kaltim Abdulloh Desak RSKD Balikpapan Rombak Sistem Layanan Medis

Ia menambahkan, tidak semua komplikasi kehamilan dapat diprediksi. Karena itu, kemampuan tenaga kesehatan harus terus diperbarui melalui pelatihan yang berkelanjutan agar mutu pelayanan tetap terjaga.

“Komplikasi kehamilan ada yang bisa diprediksi, tetapi ada juga yang terjadi secara mendadak. Karena itu tim harus selalu siap, dan kegiatan workshop seperti ini perlu terus dilaksanakan untuk menjaga mutu pelayanan yang sudah ada,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Dra. Alwiati, Apt., menilai peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi langkah penting dalam upaya menurunkan angka kematian ibu di Balikpapan. Menurutnya, keterampilan tenaga kesehatan di lini pelayanan pertama sangat menentukan keberhasilan penanganan kasus kegawatdaruratan.

“Tujuan kegiatan ini adalah menurunkan angka kematian ibu di Kota Balikpapan. Harapan kami seluruh ibu yang melahirkan dapat kembali sehat dan mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya,” ujar Alwiati.

Ia berharap seluruh peserta mampu menguasai keterampilan yang diberikan selama workshop sehingga dapat memberikan pertolongan secara cepat dan tepat saat menghadapi kegawatdaruratan maternal maupun neonatal di fasilitas pelayanan kesehatan.

“Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini peserta memiliki keterampilan yang semakin baik dalam menangani kegawatdaruratan ibu dan bayi, sehingga tidak ada lagi keterlambatan penanganan yang berujung pada kematian ibu,” tutupnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
angka kematian ibu dan bayi RSKD Balikpapan balikpapan