Tekan Kematian Ibu-Bayi, 40 Dokter dan Bidan di Balikpapan Ikuti Workshop PONEK

Nuron Setya Wijaya • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 19:01 WIB
PERKUAT KOMPETENSI: Puluhan dokter, bidan, dan perawat dari puskesmas se-Balikpapan mengikuti praktik penanganan kegawatdaruratan pada Workshop PONEK yang digelar RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) di Balikpapan, Selasa (28/7/2026). (NURON/KP)
PERKUAT KOMPETENSI: Puluhan dokter, bidan, dan perawat dari puskesmas se-Balikpapan mengikuti praktik penanganan kegawatdaruratan pada Workshop PONEK yang digelar RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) di Balikpapan, Selasa (28/7/2026). (NURON/KP)

BALIKPAPAN – Sebanyak 40 dokter, bidan, dan perawat dari puskesmas serta fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang melayani persalinan mengikuti Workshop Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) yang diselenggarakan RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Selasa (28/7).

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam mendeteksi dan menangani kegawatdaruratan maternal serta neonatal. Workshop digelar dalam format pelatihan intensif sehingga jumlah peserta dibatasi.

Selain penyampaian materi, peserta juga mendapatkan praktik penanganan kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal yang dapat langsung diterapkan di fasilitas pelayanan kesehatan masing-masing.

Ketua Panitia Workshop, dr. Tedy Teguh Satriadi, Sp.OG, mengatakan pembatasan jumlah peserta dilakukan agar proses pembelajaran berlangsung lebih efektif sesuai ketentuan pelaksanaan workshop dari Kementerian Kesehatan.

“Karena ini sifatnya workshop, jumlah peserta memang dibatasi sebanyak 40 orang yang terdiri dari dokter, perawat, dan bidan dari seluruh puskesmas di Balikpapan. Ke depan kegiatan seperti ini akan kami laksanakan secara reguler sehingga seluruh tenaga kesehatan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan,” ujarnya.

Baca Juga: Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, RSKD Balikpapan Gelar Workshop Nakes Puskesmas

Menurut dr. Tedy, peserta dibekali kemampuan mengenali tanda bahaya pada ibu hamil dan bayi baru lahir, melakukan penanganan awal, hingga memahami mekanisme rujukan apabila kondisi pasien memerlukan pelayanan lanjutan di rumah sakit.

Ia menjelaskan, tenaga kesehatan di pelayanan primer memiliki peran penting karena menjadi garda terdepan dalam menemukan kasus kegawatdaruratan. Kemampuan mendeteksi secara cepat akan menentukan keberhasilan penanganan dan keselamatan ibu maupun bayi.

“Harapannya dokter, bidan, dan perawat mampu merespons kondisi kegawatdaruratan dengan cepat dan tepat. Jika fasilitasnya tidak memungkinkan, pasien harus segera dirujuk sesuai sistem yang telah ditetapkan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Dra. Alwiati, Apt., mengatakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan merupakan salah satu langkah untuk memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan bayi di Balikpapan.

Baca Juga: Drg Ahmad Jais, yang Kini Definitif Menjadi Direktur RSKD, Siap Maksimalkan Fasilitas Modern dengan Memperkuat Layanan Jantung Rujukan Kaltim

“Tujuan kegiatan ini adalah menurunkan angka kematian ibu di Kota Balikpapan. Kami berharap seluruh peserta memperoleh keterampilan yang lebih baik dalam menangani kegawatdaruratan maternal dan neonatal sehingga dapat memberikan pelayanan yang aman dan tepat bagi ibu maupun bayi,” ujarnya.

Selain materi teori, para peserta juga memperoleh pembelajaran praktik yang dipandu narasumber dan fasilitator berpengalaman di bidang obstetri dan neonatal. Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan semakin siap mengambil keputusan klinis, memberikan penanganan awal, serta melakukan rujukan secara tepat apabila menemukan kondisi kegawatdaruratan.

RSKD berencana melaksanakan workshop serupa secara berkala dengan peserta yang berbeda agar semakin banyak tenaga kesehatan di Balikpapan memiliki kompetensi yang sama dalam penanganan kegawatdaruratan ibu dan bayi. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Workshop PONEK Balikpapan kematian ibu dan bayi RSKD Balikpapan balikpapan