BALIKPAPAN – RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan berencana menggelar Workshop Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) secara berkala sebagai upaya menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi. Program tersebut disiapkan agar semakin banyak tenaga kesehatan di puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) memiliki kompetensi dalam menangani kegawatdaruratan maternal dan neonatal.
Rencana itu disampaikan Ketua Tim PONEK RSKD sekaligus Ketua Panitia Workshop, dr. Tedy Teguh Satriadi, Sp.OG, usai pelaksanaan Workshop Deteksi Dini Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal yang diikuti tenaga kesehatan dari berbagai puskesmas di Balikpapan.
Menurut dr. Tedy, pelaksanaan workshop kali ini hanya melibatkan 40 peserta karena kegiatan diselenggarakan dalam format workshop yang mengedepankan praktik sehingga jumlah peserta harus dibatasi agar proses pembelajaran berlangsung efektif.
“Karena ini sifatnya workshop, peserta memang dibatasi 40 orang yang terdiri dari dokter, bidan, dan perawat dari puskesmas di Balikpapan. Ke depan kami akan mengadakan workshop yang sifatnya reguler dan konsisten, sehingga pada termin berikutnya akan diikuti peserta yang berbeda,” ujarnya.
Baca Juga: Tekan Kematian Ibu-Bayi, 40 Dokter dan Bidan di Balikpapan Ikuti Workshop PONEK
Ia mengatakan pelaksanaan workshop secara berkelanjutan diperlukan karena kompetensi tenaga kesehatan harus terus diperbarui seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan pelayanan di lapangan.
Terlebih, komplikasi pada kehamilan dan persalinan tidak seluruhnya dapat diprediksi sehingga kesiapan tenaga kesehatan menjadi faktor penting dalam menyelamatkan ibu dan bayi.
“Komplikasi kehamilan ada yang bisa diprediksi, tetapi ada juga yang terjadi secara mendadak. Karena itu tim harus selalu siap. Workshop seperti ini harus terus kita maintenance untuk menjaga mutu pelayanan yang sudah ada,” katanya.
Dalam setiap pelatihan, peserta tidak hanya memperoleh materi mengenai deteksi dini kegawatdaruratan maternal dan neonatal, tetapi juga dibekali keterampilan praktik penanganan kasus, pengambilan keputusan klinis, hingga penguatan sistem komunikasi dan rujukan antarfasilitas kesehatan.
Baca Juga: Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, RSKD Balikpapan Gelar Workshop Nakes Puskesmas
Dr. Tedy menjelaskan, sebagian besar kematian ibu masih disebabkan hipertensi dalam kehamilan atau preeklamsia, perdarahan, dan infeksi. Selain itu, penyakit penyerta seperti gangguan jantung, penyakit autoimun, maupun penyakit metabolik juga membutuhkan deteksi dini agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Dra. Alwiati, Apt., menyambut baik komitmen RSKD untuk terus meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan yang berkesinambungan.
Menurutnya, peningkatan keterampilan tenaga kesehatan merupakan bagian penting dalam upaya menurunkan angka kematian ibu di Balikpapan.
“Harapan kami, hasil pelatihan ini memberikan keterampilan yang semakin baik bagi tenaga kesehatan sehingga mampu menangani kegawatdaruratan maternal dan neonatal secara cepat dan tepat. Tujuan akhirnya adalah agar tidak ada lagi kematian ibu yang sebenarnya dapat dicegah,” ujar Alwiati.
Melalui pelaksanaan workshop secara berkala, RSKD berharap seluruh tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan persalinan di Balikpapan dapat memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan. Dengan kompetensi yang terus diperbarui, kualitas pelayanan maternal dan neonatal di setiap fasilitas kesehatan diharapkan semakin merata serta mampu memberikan perlindungan yang lebih baik bagi keselamatan ibu dan bayi. (riz)
Editor : Muhammad Rizki