Politik bukanlah panggung yang sejak awal ia impikan. Bahkan ketika pertama kali ditawari menjadi calon anggota legislatif, perempuan yang puluhan tahun mengabdikan diri sebagai pendidik PAUD itu memilih menolak.
Saat itu, perhatian Iim masih tertuju pada keluarga. Lima anaknya masih membutuhkan pendampingan penuh, sementara aktivitas sosial yang dijalaninya sudah cukup menyita waktu.
"Sebelumnya sebenarnya sudah pernah mendapatkan tawaran, tapi saya jujur waktu itu tidak tertarik. Saya tidak tertarik sekali dengan dunia politik. Anak-anak saya masih kecil-kecil," kenangnya.
Baca Juga: Dari Wedang Jahe hingga Teh Semangka, Menu Minuman Bertema Kemerdekaan Hadir di Yello Hotel
Namun menjelang Pemilu 2024, tawaran kembali datang. Kali ini, ada alasan yang membuatnya melihat politik dari perspektif berbeda. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membutuhkan keterwakilan perempuan untuk memenuhi kuota 30 persen calon legislatif perempuan.
Iim pun mulai berpikir, suara perempuan membutuhkan ruang representasi yang lebih kuat. "Penduduk kan banyak perempuan. Yang lebih paham kebutuhan perempuan ya perempuan juga," ujarnya.
Keputusan itu akhirnya membawanya menjadi anggota DPRD Balikpapan periode 2024–2029. Ia kemudian dipercaya bergabung di Komisi IV yang membidangi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi Iim, posisi tersebut terasa seperti kembali ke dunia yang selama ini ia kenal. "Saya seperti ikan ketemu kolam. Memang itu dunia saya. Kegiatannya sama saja, hanya tempatnya yang berpindah," katanya.
Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Cair Lagi di Bulan Agustus, Cek Nominal yang Masuk Rekening!
Pengalaman panjang sebagai guru PAUD membuat Iim memahami bahwa pembangunan manusia harus dimulai sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan anak bukan sekadar menyiapkan kemampuan akademik, tetapi membangun fondasi karakter dan kualitas generasi masa depan.
Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan dan peningkatan kompetensi guru PAUD menjadi salah satu isu yang terus ia dorong. Menurut Iim, banyak guru PAUD memiliki semangat belajar tinggi. Mereka rela melanjutkan pendidikan, mengikuti pelatihan bahkan kembali kuliah demi meningkatkan kemampuan.
"Saya yakin teman-teman PAUD itu pembelajar. Disuruh kuliah lagi mereka mau, disuruh ikut pelatihan juga mau. Tapi pemerintah juga harus melihat mereka. Ini fondasi pembangunan SDM," tegasnya.
Semangat belajar itu pun ia terapkan pada dirinya sendiri. Berangkat dari latar belakang pendidikan biologi, Lim kembali menempuh pendidikan Sarjana PAUD ketika memilih terjun sebagai pendidik anak usia dini.
Kini setelah menjadi legislator, ia kembali duduk di bangku kuliah dengan mengambil program magister Administrasi Publik. Baginya, pemahaman tentang pemerintahan penting agar kebijakan yang diperjuangkan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
"Karena saya merasa masih nol soal pemerintahan, jadi saat ini pun saya kuliah lagi," ujarnya.
Baca Juga: Waktunya Liburan! Agustus 2026 Punya 2 Hari Libur Nasional, Potensi Long Weekend, Cek Jadwalnya
Selain pendidikan, perhatian Iim juga tertuju pada kader Posyandu yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat. Ia menilai dedikasi para kader perlu mendapatkan perhatian lebih, termasuk dari sisi penghargaan dan dukungan pemerintah.
"Kader Posyandu itu tidak dibayar saja semangatnya luar biasa. Masa iya kita tidak menghargai mereka," katanya.
Bagi Iim, pembangunan manusia tidak hanya berbicara tentang program besar, tetapi juga tentang menghargai orang-orang yang bekerja di garis depan pelayanan masyarakat. Sebab baginya, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa investasi serius pada pendidikan anak usia dini, tenaga pendidik dan para penggerak sosial di tingkat akar rumput. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo