KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Konsep kota ramah anak tidak hanya berbicara tentang penyediaan fasilitas, tetapi juga bagaimana menciptakan ruang yang membuat anak-anak dapat tumbuh, belajar, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Pemerintah Balikpapan pun mulai mendorong pemanfaatan ruang publik sebagai tempat edukasi, termasuk melalui pengembangan taman yang lebih ramah anak.
Hal ini dikatakan Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sekaligus Bunda Literasi Balikpapan Nurlena Rahmad Mas'ud, yang mengatakan keberadaan taman di enam kecamatan menjadi salah satu upaya pemerintah menghadirkan ruang alternatif bagi anak-anak di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin kuat.
Menurutnya, anak-anak saat ini semakin dekat dengan perangkat digital atau gadget. Kondisi tersebut perlu diimbangi dengan menghadirkan ruang bermain yang mampu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan membangun kebiasaan positif.
Baca Juga: KIARA Jadi Motor Gerakan Literasi Anak, Nurlena Minta Program Tak Berhenti di Ruang Diskusi
"Kita sudah membuat bagaimana taman-taman yang ada di enam kecamatan Kota Balikpapan itu ramah dengan keadaan anak-anak sekarang yang suka main gadget. Bagaimana kita alihkan ke taman agar anak-anak lebih aware dengan kondisi lingkungannya," kata Nurlena.
Ia menilai ruang publik memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak. Tidak hanya menjadi tempat bermain, taman juga dapat menjadi sarana mengenalkan literasi dalam kehidupan sehari-hari.
Nurlena menyebut pendekatan literasi saat ini harus mengikuti perkembangan zaman. Anak-anak tidak bisa hanya diarahkan untuk membaca buku secara konvensional, tetapi juga perlu diperkenalkan dengan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan sesuai dengan kebiasaan mereka.
Baca Juga: Turis Asing Lebih Lama Menginap di Balikpapan, Potensi Belanja Ikut Meningkat
"Bagaimana literasi ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak bisa belajar dari lingkungan, dari permainan edukatif, maupun kegiatan yang membuat mereka tertarik untuk membaca dan mencari tahu," ujarnya.
Selain melalui taman, penguatan literasi juga diarahkan agar anak-anak lebih bijak menggunakan teknologi. Menurutnya, gadget bukan sesuatu yang harus dijauhkan sepenuhnya, melainkan dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.
"Teknologi bisa kita gunakan, bagaimana anak-anak membuka gadget bukan hanya untuk melihat TikTok atau bermain permainan, tetapi ada permainan buku, simulasi, dan hal-hal yang bisa meningkatkan minat baca mereka," jelasnya.
Nurlena menambahkan, membangun kota ramah anak membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas hingga pemerintah. Lingkungan terdekat anak menjadi faktor utama dalam membentuk kebiasaan dan karakter sejak usia dini.
"Melalui berbagai program PAUD dan literasi, Pemkot Balikpapan berharap anak-anak tidak hanya tumbuh dengan kemampuan akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta kemampuan berpikir kritis sejak dini," tuturnya.
Editor : Nugroho Pandu Cahyo