KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Perkembangan teknologi digital menjadi tantangan baru dalam membangun budaya literasi anak. Di tengah tingginya penggunaan gadget oleh anak-anak, Pemerintah Balikpapan mendorong pendekatan baru agar teknologi tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.
"Perubahan zaman membuat pola pengembangan literasi anak harus ikut beradaptasi. Menurutnya, membatasi anak dari teknologi bukan satu-satunya solusi, melainkan bagaimana mengarahkan penggunaan teknologi ke hal yang lebih produktif," ucap Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sekaligus Bunda Literasi Balikpapa Nurlena Rahmad Mas'ud.
"Kita bermula dari sekarang, bagaimana literasi kita ini hidup kembali. Dengan adanya gadget, mungkin kita bisa melalui teknologi, bagaimana buku dan teknologi bisa berjalan bersama," lanjutnya.
Baca Juga: Balikpapan Sulap Taman Kota Jadi Ruang Literasi Anak, Kurangi Ketergantungan pada Gadget
Ia menilai anak-anak saat ini sudah sangat dekat dengan perangkat digital. Karena itu, pendekatan literasi perlu dikemas lebih menarik agar sesuai dengan karakter generasi saat ini.
Maka dari itu, penggunaan gadget dapat diarahkan untuk mendukung kegiatan membaca, permainan edukatif, hingga simulasi pembelajaran yang mampu meningkatkan rasa ingin tahu anak.
"Anak-anak kita ini membuka gadget bukan hanya melihat TikTok atau permainan, tetapi ada permainan buku, ada simulasi di situ agar minat baca anak-anak meningkat," katanya.
Nurlena menjelaskan, penguatan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Lingkungan keluarga dan masyarakat juga memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan anak dalam mengakses informasi.
Baca Juga: KIARA Jadi Motor Gerakan Literasi Anak, Nurlena Minta Program Tak Berhenti di Ruang Diskusi
Program literasi yang dikembangkan pemerintah daerah saat ini menyasar tiga lingkungan utama, yakni satuan pendidikan, masyarakat, dan keluarga. Ketiga unsur tersebut dinilai harus berjalan bersama agar budaya membaca dapat tumbuh sejak usia dini.
Ia mengatakan, anak yang terbiasa mendapatkan pendampingan dalam menggunakan teknologi akan lebih mampu memilah informasi yang diterima. Sebaliknya, penggunaan gadget tanpa pengawasan dapat membuat anak lebih banyak mengakses konten yang tidak mendukung perkembangan mereka.
"Memang program kami saat ini difokuskan kepada anak, karena kewajiban pemerintah daerah adalah memberikan penguatan literasi kepada satuan pendidikan, masyarakat, dan keluarga," jelasnya.
Melalui sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, akademisi, hingga keluarga, Balikpapan berharap dapat menciptakan ekosistem literasi yang sesuai dengan perkembangan zaman.
"Teknologi tidak lagi dipandang sebagai ancaman bagi budaya membaca, tetapi menjadi alat baru untuk memperluas akses anak terhadap pengetahuan dan pembelajaran yang lebih kreatif," tegasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo